Bank Informasi

Twitter dan facebook

Buku tamu

Recently Commented

Recently Added

share samping

Video

MOST RECENT

Yahoo chat

Album

Blog Archive

    • Latest Stories

      What is new?

    • Comments

      What They says?

PERANAN UNIVERSITAS DALAM MENYIAPKAN “KHAIRU UMMAH” UMAT YANG BERKUALITAS

PERANAN UNIVERSITAS DALAM MENYIAPKAN “KHAIRU UMMAH” UMAT YANG BERKUALITAS[1]
Oleh H. Zamris Habib[2]


Pertama-tama marilah kita mengucapkan syukur alhamdulillah kepada Allah swt  atas rahmat dan kurnianya hari ini, dimana kita dapat melaksanakan kewajiban   sholat Jum’at pada siang ini, terutama nikmat iman dan kesehatan yang telah mengantarkan kita datang ke tempat yang mulia ini .

Selanjutnya solawat dan salam kita sampaikan kepada Rasulullah Nabi terakhir Muhammad SAW, dengan kehadiran utusan Allah ini ‘maka kita diberi kesempatan untuk menyandang tugas sebagai Kalifah Tuhan di Bumi persada ini.
Berkat rahmat Allah dan Syafaat dari Nabi Muhammad SAW kita dapat melaksanakan sholat Jum’at dalam keadaan sehat, aman dan nyaman di Mesjid Taqwa yang indah ini. Tidak semua orang punya kesempatan untuk melaksanakan Sholat Jum’at karena tidak sehat atau sakit, juga banyak yang sehat akan tetapi tidak punya kesempatan untuk melaksanakan Sholat Jum’at karena  daerahnya kurang aman seperti di daerah Suria sekarang ini dimana terjadi perang saudara. Mungkin mereka tidak sakit, dan daerahnya aman tapi kurang nyaman melaksakan sholat Jum’at karena tempatnya sempit atau Mesjidnya kurang sirkulasi udara sehingga sangat panas,
Alhamdulillah kita yang berada di Mesjid Taqwa ini sekarang ini telah diberikan kesempatan untuk melaksanakan sholat Jum’at dalam keadaan sehat, dalam keadaan aman dan terasa nyaman di Mesdjid ini. Oleh karena itu kita wajib bersyukur kepada Allah swt atas rahmat sehat, aman dan keadaan nyaman ini.

(Dan jika kamu bersyukur akan aku tambahi nikmat Ku dan jika kamu mengikari nikmatku ingat azabKu sangat pedih - AlQuran)
Pada kesempatan ini saya akan mengangkat thema tentang peranan universitas dalam menyiapkan “khairu Ummah” umat yang berkualitas dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional tanggal 2 Mei dan  menyongsong 25 tahun kedepan sebagai implementasi dalam menjalankan fungsi manusia sebagai “khalifah fil ard” (khalifah di muka bumi)
Esensi dari pendidikan adalah merubah sikap dan perilaku anak manusia kepada yang lebih baik. Mengacu kepada UUD 1945 tercantum visi pendidikan yaitu mencerdaskan bangsa. Visi ini banyak dikritik ahli pendidikan karena bernuansa skuler, karena tidak menempatkan Ketuhanan  sebagai tujuan pendidikan, ini terlihat dalam undang2 Pendidikan th 1954
Akan tetapi dengan perjuangan beberapa kalangan yang konsen terhadap agama maka pada UUSPN  no 2 thn 1989 dan UUSPN no 20 thn 2003, tercantum bahwa tujuan membentuk manusia yang beriman dan bertaqwa. Mencantumkan kata iman dan taqwa dalam UUSPN bukan perkara yang mudah penuh perjuangan dan loby2.
Perjuangan ini dilandasi (dalam pandangan Islam) bahwa manusia adalah khalifah atau dalam bahasa sederhananya wakil Tuhan dimuka bumi
Sebagai jawaban dari firman Allah :

Aku jadikan manusia sebagai khalifah di bumi ini
Untuk mengelola bumi dengan baik sesuai dengan sunatullah atau agar bumi ini tidak rusak binasa maka diperlukan orang2 yang yang memiliki ilmu pengetahuan dan sains, sebab tidak mudah mengelola bumi ini dengan segala isinya tanpa didasari bidang keilmuan yang dibutuhkan. Untuk itu Allah mendorong umat manusia untuk belajar, sebagaimana firmannya dalam surat  Al Mujadalah 58:11)

 “Allah mengangkat derajat orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat, dan Allah Maha teliti apa-apa yang kamu kerjakan”
Ayat yang khatib bacakan tsb. dimana Allah mengangkat derajat orang yg berilmu, artinya posisi ilmu pengetahuan sangat dijunjung Tuhan apabila manusia belajar dan mengamalkan, serta mengimplementasikan ilmu yang dipelajarianya.
Apalagi banyak hadis Nabi yang mendukung dan menjelaskan terhadap betapa penting ilmu pengetahuan atau sains bagi manusia.

“Tuntutlah Ilmu dari buaian sampai lobang lahat”

“Menuntut Ilmu fardhu bagi setiap muslim dan muslimah”

“Tuntutlah ilmu walau sampai ke Negeri Cina”
Ada suatu pesan yang sangat urgent dan penting bagi umat manusia untuk menuntut ilmu, kalau kita perhatikan bagaimana Nabi Adam diajarkan oleh malaikat nama_nama, (“allamal Aadam asma’”) dan juga diwaktu Malaikat Jibril menyampaikan wahyu kepada Nabi Muhammad Saw, di mulai dengan kalimat IQRA’, bacalah.
Kalau kita cermati kalimat Iqra”kalimat pertama yang disampaikan kepada Rasulullah dan bagaimana malaikat mengjarkan Adam dengan Nama2 tersirat bahwa manusia harus belajar dalam mengarungi hidup ini, perlu belajar apalagi manusia diberi tugas sebagai khalifah sebagai pengelola bumi ini suatu yang mustahil tanpa basic  ilmu penegtahuan
Mungkin disinilah urgensi apa yang yang dianjurkan oleh pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan dengan mengutip Alquran, :

“Hendak ada suatu kelompok umat diantara kamu yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah kepada yang munkar” (S. Al Imran 3:104)
Tentu suatu yang mustahil suatu kelompok atau individu dalam melaksanakan tugas tersebut tanpa dibekali dengan ilmu pengetahuan.
Disinilah mungkin kita melihat Persyarikatan Muhammadiyah mengimplementasikan seruan Sang Pencerah pendiri Muhammadiyah ini dengan mendirikan berbagai lembaga pendidikan mulai dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi. Ribuan sekolah sudah dibangun dan puluhan perguruan perguruan tinggi sudah didirikan, termasuk tempat kita mengabdi di Universitas Muhammadiyah Jakarta. Ini suatu karya besar atau amal usaha yang monumental yang sulit ditandingi oleh lembaga-lembaga lainnya.
Tentu saja kita tidak dapat berpuas diri dengan pencapaian yang demikian, secara kuantitas mungkin kita bisa berbangga diri akan tetapi bagaimana  dari sudut kualitas ?
Kita tentu jangan berkecil hati dulu, bahwa rendahnya mutu dan kualitas lembaga pendidikan bukan saja terdapat  di perguruan Muhammadiyah tetapi juga di Negara-negara Islam lainnya, belum ada Universitas yang mencapai ranking sepuluh dunia

Sidang Jumat yang saya muliakan, rahima kumulloh
Times Higer Education (THE) selama ini dikenal luas sebagai salah satu lembaga yang mepublikasikan ranking universitas di dunia (world class university). Selama ini perguruan tinggi di Amerika dan Inggris yang mendominasi posisi tertinggi dalam ranking yang dipublikasikan oleh lembaga yang berpusat di London Inggris.
Beberapa perguruan tinggi di emerging economies menduduki posisi tersebut adalah Nanyang Technological University (NTU) Singapura dan Koch University Turki .(lihat Bambang Cipto, Republika )
Sayang tak ada satupun perguruan tinggi di Indonesia yang menduduki ranking tersebut apalagi universitas atau perguruan tinggi yang menyandang label Islam.
Mengapa Indonesia jauh tertinggal dari Negara tetangga Singapore yang sangat kecil dalam ukuran wilayah dan penduduk ?
Beberapa analisis ada yang mengatakan bahwa perguruan tinggi di negeri kita belum menjadi unsur pendukung yang dominan dalam membangun bangsa dan dalam mensejahterakan masyarakat  bahkan sebahagian perguruan tinggi kita malah menjadi beban dari anak bangsa ini.
Perguruan tinggi kita  bukan melahirkan manusia pembangun yang innovative dan kreatif akan tetapi bahkan banyak menghasilkan pengangguran dan ini akan menjadi beban Negara dan masyarakat.
Hal ini perlu menjadi renungan bagi kita sebagai insane akademis  di Persyarikatan Muhammadiyah ini, sampai dimana  kita bebuat dan berkarya dalam melahirkan manusia sebagaimana yang diharapkan oleh Pendiri Muhammadiyah ini yaitu” khairu ummah”
Sidang Jumat yang saya muliakan.
Pada kesempatan yang berbahagia ini saya ingin mengemukan beberapa data yang saya kutip dari Majalah Time, tentang jumlah penduduk dunia berdasarkan :
Agama :
1.   Kristen       : 2 milyar
2.   Islam          :1,4 milyar
3.   Hindu         :900 juta
4.   Budha        :360 juta
5.   Atheis        :850 juta
6.   Yahudi       :14 Juta
7.   Sikh            :23 juta
8.   Lain2          :525 juta

Sekarang kita lihat pula keberadaan Universitas :

56 negara Muslim rata-rata memiliki 10 universitas
Artinya untuk penduduk 1.4 milyar hanya tersedia 600 universitas bandingkan dengan Amerika yg mempunyai  5758 universitas dengan penduduk 200juta
Selanjut berapa Hadiah Nobel yang diperoleh oleh Sarjana Muslim:
Dari 1,4 milyar penduduk Muslim hanya meraih 8 buah hadiah Nobel bandingkan dengan orang-orang Yahudi yang penduduknya hanya 14 juta ( 1 % dari penduduk Muslim) mereka sudah meraih 167 hadiah Nobel
Sidang jumat yang berbahagia
Dari data-data tersebut kita bisa manganalisis bahwa angka-angka dalam pencapaian kuantitatif tidak banyak pengaruhnya dalam percaturan di dunia global dewasa ini. Kita umat Islam dilihat hanya sebelah mata ibarat buih di lautan yang tidak banyak artinya.
Sebuah pertanyaan besar yang mungkin sudah disinyalir jawabannya oleh Allah swt :

“Banyak kelompok kecil yang akan mengalahkan kelompok besar”
Tidak aneh kalau kaum Yahudi yang jumlahnya hanya 14 juta bisa mengalahkan dan memperdayai umat Islam melalui loby-lobynya dengan sekutu – sekutu mereka di Amerika dan Eropa. Mereka bisa memporak porandakan dan menghacurkan negara Islam di Timur Tengah, lihat kasus-kasus Arab Spring mulai dari Tunisia, Libia, Mesir, dan sekarang yang sedang berkecamuk perang adalah Suriah antara sesama saudara Muslim
Negara-negara Timur Tengah menjadi target utama mereka karena 70 %   kekayaan minyak dunia berada di sana. Demikian juga Negara-negara yang berpenduduk Muslim lainnya, lihat kasus Afghanistan dan tidak terkecuali Indonesia sudah dan sedang menjadi incaran mereka. Dalam diskusi kami dengan Kevin Fox dari Universitas  Amerika 2 tahun yang lalu di Universitas Muhammadiyah Jakarta ini mereka mengakui setiap peristiwa politik dalam negeri di Indonesia, Amerika dengan CIAnya ikut bermain secara politik dan dukungan dana.
 Pertanyaannya adalah :Kenapa mereka bisa berkuasa dan bisa mengalahkan kita yang dalam segi kuantitas kita sangat banyak, disinilah mungkin (sekali lagi mungkin) apa yang dikatakan Allah bahwa mereka yang berilmu akan ditinggikan beberapa derajat.
Dengan penguassan ilmu pengetahuan serta penghasilan dan  kekayaan yang mereka miliki, mereka akan dapat menguasai dunia.
Coba  lihat income percapita penduduk bardasarkan agama :
1.   Yahudi            : US$ 16.100 (lk Rp 180 juta)
2.   Kristen            :            8.230 (lk Rp  90 juta
3.   Budha             :            6.740 (lk Rp. 70 juta)
4.   Muslim            :            1.720 (lk Rp. 18 juta)

Income percapita umat Islam lebih kurang sepersepuluh dari penghasilan orang Yahudi dan seperempat dari rata-rata penghasilan umat Kristiani.
Sehingga dengan kecerdasan ilmu dan kekayaan yang mereka miliki wajar saja kalau mereka punya strategi dan perencanaan yang matang dalam menghancurkan lawan-lawan mereka, dengan menggunakan perang dengan alat modern dan senjata nuklir dimana mereka memiliki senjata yang sangat banyak jumlahnya dibanding dengan Negara–negara Islam, serta  perang urat saraf dengan memanfaatkan berbagai media massa yang mereka kuasai, lihat saja media_media televisi dunia, dimana kiblat mereka adalah CNN (Cabel News Network), bahkan ada yang mengatakan bahwa sidang Dewan Keamanan PBB sudah dirancang hasilnya oleh orang-orang CNN sebelum  bersidang.
Dalam hal ini Umat Islam harus menciptakan “Khairu Ummah”  Manusia yang berkualitas dari segi ilmu,orang-orang kaya yang mampu membangun media Televisi, radio, majalah dan surat kabar. Perang yang berlangsung sekarang ada dua yaitu dengan senjata otomatis  dan nuklir, yang kedua perang urat syaraf (psy war) melalui media massa terutama televisi
Untuk  itu perguruan tinggi juga harus menghasilkan orang yang memiliki kemampuan keilmuan dan keterampilan untuk berada behind the technology, behind the screen. Kita ummat Islam dunia sangat kekurangan tenaga-tenaga atau SDM dibidang media.Sedangakan sekarang sedang berlangsung perang urat saraf (psy war) melalui media massa.
Betapa buruk citra umat Islam Indonesia di dunia hanya karena suatu peristiwa pembakaran kampung syiah di Madura yang selalu diulang-ulang penyiarannya oleh stasiun Televisi asing. Satu-satunya yang bisa mencounter adalah stasiun Televisi Aljazirah.
Indonesia khususnya umat Islam belum punya Stasiun Televisi Broadcast, Universitas tentu tidak dapat berpangku tangan dalam mewujudkan sarana perang urat saraf dan ini adalah suatu wajiban khifayah , memang PP Muhammadiyah sudah mendirikan Stasiun Televisi (TV Streaming), tapi hal tersebut tidak banyak bisa mempengaruhi opini masyarakat
Sidang Jumat yang berbahagia.
Oleh sebab itu ke depan  sudah  saatnya kita membuat strategi dan perencanaan ke depan dengan orientasi quality, mutu, . membentuk khairu ummah, suatu kelompok elit yang mempunyai kapasitas, kapabiltas dan kompetensi yang mumpuni.
Tugas membentuk “khairu ummah” itu terletak di pundak para cendikiawan muslim tidak terkecuali kita yang berada di sini sebagai dosen, mahasiswa dan pimpinan universtas.
Persyarikatan telah menyediakan wadah bagi kita,  tinggal kita mengisi untuk meningkatkan kemampuan kita meningkatkan kualitas akademis kita.
Satu pertanyaan yang perlu kita renungkan adalah :
Apakah kita sebagai mahasiswa bersungguh-sungguh dalam belajar, ataukah  kuliah hanya untuk mendapat ijazah atau gelar sarjana ? Demikan juga para dosen, apakah masih terus meng update ilmu pengetahuannya dengan membaca perkembangan ilmunya, melalui buku-buku journal terbaru atau masih mengandalkan diktat atau power point yang sudah out of date (sudah basi)
Atau suatu pertanyaan besar dan mendasar : apakah kita disini hanya sekadar mencari makan atau kehidupan, kalau demikian alangkah sangat miris mendengarnya  tidak sesuai dengan anjuran KH Ahmad Dahlan “hidupilah Muhammadiyah dan jangan mencari hidup di Muhammadiyah”
Anjuran tersebut patut kita renungkan kembali “Fak takbiru ya Ulil Albaab””




[1] Disarikan dari Khotbah Jum’at Penulis di Mesjid Taqwa Universitas Muhammadiyah Jakarta Jumat tanggal 2 Mei 2014
[2] Penulis adalah Dosen Ilmu Komunikasi pada Fakultas Agama Islam UMJ dan FDIK UIN Jakarta

Tentang Drs. Zamris Habib, M.Si

Drs. Zamris Habib, M.Si, saat ini mengajar Ilmu Komunikasi, Media dan Teknologi Pendidikan pada UIN (Universitas Islam Negeri) Syarif Hidayatullah Jakarta dan UMJ (Universitas Muhammadiyah Jakarta) sejak tahun 1995. Dari tahun 1977 bekerja di Pustekkom (Pusat Teknologi Komunikasi dan Informasi) Departemen Pendidkan Nasional sampai pensiun pada awal tahun 2006. Selama di Pustekkom pernah menjabat Kabid Analisa dan Evaluasi (1998), dan Kabid Pengembangan Model Pembelajaran (2001) Sebelumnya pada tahun 1992 pernah menjabat koordinator Program Siaran Radio Pendidikan (SRP) untuk penataran guru SD dan program SRP untuk penyetaraan D2 guru SD. Pria yang lahir 8 Januari 1950 di Situjuh Payakumbuh adalah lulusan program Magister Manajemen Komunikasi Universitas Indonesia ini beberapa kali mengikuti training di bidang pendidikan jarak jauh/terbuka dan komunikasi di University Western of Australia Perth, University of Technology Sidney, Warner Bros (WB) Film Production di Gold Coast Australia; training tetang technology applications for education di Innotec Center, Manila Philipina, dan NHK Studio, Ashahi Shimbun, University of Tokyo, Jepang. Aktif mengikuti seminar nasional/internasional teknologi pendidikan, distance/open education, e-learning, dll. Sewaktu mahasiswa menulis di berbagai media, terakhir redaksi Jurnal TEKNODIK dan Buletin FORUM KOMUNIKASI Pustekkom sd. 2005. Anak Minang yang bergelar Datuk Paduko Rajo ini mempunyai motto hidupnya “Bahwa dibalik kesulitan itu terdapat kemudahan, dan dibalik kesulitan yang sama terdapat kemudahan2 yang lain, dan setelah selesai mengerjakan sesuatu maka mulai mengerjakan yang lain serta Kepada Allah selalu berharap”. Motto ini terinspirasi dari Al Qur’an surat Al Insyirah. Pria yang hoby membaca buku-buku filsafat, politik, pendidikan, komunikasi dan agama ini beristerikan Lely dan telah mempunyai 4 orang anak (Liza, Alfi, Putri dan Ganto), sekarang kakek yang sudah mempunyai tiga orang cucu (Zidan,Virza dan Najwa) ini tinggal di Perumahan Depdiknas Blok A No 5, Cipayung Ciputat Tangerang, selain mengisi waktu dengan mengajar dan membaca juga disibukan dengan momong tiga orang cucu yang sedang lucu2nya


Top