Bank Informasi

Twitter dan facebook

Buku tamu

Recently Commented

Recently Added

share samping

Video

MOST RECENT

Yahoo chat

Album

Blog Archive

    • Latest Stories

      What is new?

    • Comments

      What They says?

Peranan Media Sosial dalam Pengembangan Dakwah

Peranan Media Sosial dalam Pengembangan Dakwah
Oleh Zamris Habib[1]
A.    Dakwah
Kata dakwah dalam bahasa Arab disebut bentu kata mashdar. Sedang bentuk kata kerja atau fi’il-nya adalah  - يدعو- دعوة  دعا  yang berarti memanggil, menyeru atau mengajak.[2]Dakwah itu menyeru atau mengajak kepada sesuatu perkara, yakni mengajak manusia kepada jalan Allah agar menerima dan menjadikan Dienul Islam sebagai dasar dan pedoman hidupnya.[3] Kata dakwah juga dapat dikategorikan sebaai fi’il amr yang artinya sebuah perintah[4]
Dakwah identik dengan mengajar atau khutbah dalam arti sempit dan dalam etimologi berasal dari Bahasa Arab yang berarti ajakan sesuai dengan Alqu`an surat Yunus ayat 25. Secara luas dakwah Islam merupakan usaha manusia beriman untuk mempengaruhi dan mengajak manusia dengan cara bijak agar mengikuti  ajaran Islam dalam semua segi kehidupan untuk kemaslahatan dan kebahagiaan mereka di dunia dan akhrat.[5]
Dakwah dalam artian amar ma’ruf nahy munkar adalah syarat mutlak bagi kesempurnaan dan keselamatan hidup masyarakat. Ini adalah kewajiban manusia yang memiliki pembawaan fitrah sebagai mahluk sosial dan kewajiban yang di tegaskan. Oleh karena itu, dakwah bukan monopoli golongan yang disebut “ulama” atau “cerdik-cendekiawan” saja[6].

Secara sederhana pengertian dakwah dapat dirumuskan sebagai proses penyampaian ajaran Islam kepada para umat manusia. Dari pengertian ini, paling tidak ada empat komponen yang terlibat dalam aktifitas dakwah, yaitu pesan yang disampaiakan (ajaran), penyampai ajaran (juru dakwah), penerima pesan dakwah (umat manusia), dan media yang dipakai untuk melakukan dakwah Islam.
Al-Quran menyebutkan bahwa dakwah diartikan sebagai perintah menyeru menusia ke jalan Tuhan dengan cara hikmah dan pelajaran yang baik dengan berbagai metode dan pendekatan, seperti ditegaskan Allah dalam Al-Quran yang artinya:
Serulah manusia ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan jalan yang baik pula. Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetauhi orang-orang yang mendapat petunjuk.” (An Nahl:125)  
Ayat di atas memiliki makna, untuk mengajak manusia kepada Allah dengan hikmah dan nasihat yang baik, sehingga mereka meninggalkan thaghut dan beriman kepada Allah.
 “Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Surat Ali Imran :104)
Dari pengertian dakwah dalam Al-Quran tersebut, secara singkat dapat dirumuskan bahwa tujuan akhir dakwah adalah tercapainya kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat, sebagaimana firman Allah:
Wahai Tuhan kami datangkanlah kepada kami kebahagiaan di dunia dan di akhirat serta peliharalah kami dari siksa api neraka.”(Al Baqarah:201)
Proses untuk mengajak seseorang ataupun segolongan manusia menuju arahan perilaku yang lebih baik dan menjauhi keburukan tentu saja tidak semudah membalik telapak tangan. Semuanya harus melalui proses yang terencana dan terkonsep dengan baik. Untuk dapat mencapai aktifitas dakwah tersebut, maka dalam dakwah dikenal konsep strategi dakwah. Pada dasarnya kata strategi dan dakwah merupakan dua kata yang berbeda. Strategi menurut Djoko Luknanto strategi adalah: “The science and art” untuk memanfaatkan faktor-faktor lingkungan eksternal secara terpadu dengan faktor-faktor lingkungan internal untuk mencapai tujuan lembaga.[7] Sedangkan dakwah pada dasarnya merupakan  panggilan, seruan, atau ajakan.
Terlepas analisis definisi dakwah yang sudah ada dalam fokus pembahasan ilmu dakwah. Maka ada lima faktor atau komponen dalam dakwah, yaitu: 1. Subyek Dakwah, 2. Obyek Dakwah, 3. Materi Dakwah, 4. Media Dakwah, 5. Metode Dakwah. Lima komponen tersebut ialah komponen yang selalu ada dalam dalam pelaksanaan kegiatan dakwah[8].
Berdakwah sebagaimana berkomunikasi memanfaatkan bermacam-macam teknologi, agar memudahkan dalam menyampaikan pesan-pesan dakwahnya melalui media
Strategi dakwah mencakup kegiatan perencanaan dalam menetukan metode, pesan, dan media yang akan digunakan. Maka juru dakwah menentukan ketiga hal tersebut demi kelancaran proses dakwah. Karena dakwah merupakan sesuatu yang harus dilakukan dengan rencana yang matang. J
Maka juru dakwah harus mampu melihat dengan cermat apa metode yang tepat dan apa pesan yang hendak disampaikan. Berbeda lagi dalam konteks pemilihan media, juru dakwah sebaiknya melihat terlebih dahulu bagaimana perkembangan teknologi yang saat itu sedang berkembang.

B.     Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi 
Teknologi Informasi adalah suatu teknologi komunikasi yang digunakan untuk mengolah data, termasuk memproses, mendapatkan, menyusun, menyimpan, memanipulasi data dengan berbagai cara untuk menghasilkan informasi yang berkualitas, yaitu informasi yang relevan, akurat dan tepat waktu, yang digunakan untuk keperluan pribadi, pendidikan, bisnis, dan pemerintahan. Informasi merupakan hal yang strategis untuk pengambilan keputusan. Teknologi ini menggunakan seperangkat komputer untuk mengolah data, sistem jaringan untuk menghubungkan satu komputer dengan komputer yang lainnya sesuai dengan kebutuhan, dan teknologi telekomunikasi digunakan agar data dapat disebar dan diakses secara global. Peran yang dapat diberikan oleh aplikasi teknologi informasi dan komunikasi ini adalah untuk mendapatkan informasi bagi kehidupan pribadi seperti informasi tentang kesehatan, hobi, rekreasi, dan rohani. Kemudian untuk profesi seperti sains, teknologi, perdagangan, berita bisnis, dan asosiasi profesi. Sarana kerjasama antara pribadi atau kelompok yang satu dengan pribadi atau kelompok yang lainnya tanpa mengenal batas jarak dan waktu, negara, ras, kelas ekonomi, ideologi atau faktor lainnya yang dapat menghambat pertukaran pikiran. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi memacu suatu cara baru dalam kehidupan, dimulai dari lahir sampai dengan berakhir, kehidupan seperti ini dikenal dengan e-life, artinya kehidupan ini sudah dipengaruhi oleh berbagai kebutuhan secara elektronik.
Perkembangan teknologi pada media massa merupakan salah satu pokok bahasan yang saling berkaitan. Membahas mengenai media massa Light, Keller dan Clahoun, mengemukakan bahwa media massa - yang terdiri atas media cetak (surat kabar, majalah) maupun elektronik (radio, televisi, film, dan internet) - merupakan bentuk komunikasi yang menjangkau sejumlah besar orang. Media massa diindentifikasikan sebagai suatu agen sosialisasi yang berpengaruh pula terhadap prilaku khalayaknya. Peningkatan teknologi yang memungkinkan peningkatan kulitas pesan serta peningkatan frekuensi penerpaan masyarakat pun memberi peluang bagi media massa untuk berpesan sebagai agen sosialisasi yang semakin penting.[9]
Pendapat di atas sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Folkerts dan Lacy dalam bukunya, The Media in Your Life, bahwa televisi tidak pernah menjadi media yang statis.[10] Televisi mengubah kehidupan orang, walaupun hanya mengarah pada penataan rumah mereka. Seperti yang dikemukakan oleh Lynn Spigel yang memberikan contoh dalam sebuah majalah wanita tahun 1950 di Amerika membahas cara menata kembali perabotan rumah untuk menyimpan televisi sebagai pengganti perapian dan piano tradisional. Majalah ini juga mencatat bahwa televisi dapat memberikan sebuah pengaruh yang menyatukan kehidupan keluarga. Pada periode selanjutnya televisi sering ditempatkan di mana mereka dapat menontonnya sambil makan. Sekarang beberapa rumah tangga mempunyai lebih dari satu pesawat televisi, dan anggota keluarga mereka dapat menonton sendiri-sendiri. Perubahan televisi tidak hanya seputar rumah, tetapi juga berita, politik dan  informasi. Beberapa kalangan mengatakan bahwa televisi mengubah seluruh masyarakat.[11]
Berbicara dampak televisi ada baiknya kita melihat penelitian yang dilakukan George Gerbnet beserta para koleganya di Annenberg School of Communication di University of Pennsylvania. George Gerbnet beserta para koleganya memulai dengan argumentasi bahwa televisi telah menjadi tangan budaya utama masyarakat Amerika. “televisi telah menjadi anggota keluarga yang penting, anggota yang bercerita paling banyak dan paling sering”. [12] Terlalu seringnya menonton televisi akan menghasilkan dampak tertentu yang disebutnya dengan teori kulivasi. Teori ini membicarakan bagaimana seseorang melihat informasi dalam televisi merupakan sesuatu yang nyata. Dalam hal ini Gerbnet membaginya menjadi dua jenis atau variabel; Pertama, kepercayaan tingkat pertama (first-order belief) mengacu pada keyakinan yang berkenaan dengan beragam kenyataan dunia nyata, seperti persentase orang yang menjadi korban kejahatan brutal dalam satu tahun. Kedua, kepercayaan tingkat kedua (second-order belief) mengacu pada ekstrapolasi dari kenyataan-kenyataan ini pada harapan umum atau orientasi, seperti kepercayaan bahwa dunia ini adalah tempat aman atau berbahaya.[13]
Dibanding dengan media massa yang lain, televisi memang mempunyai kelebihan utama dalam sifatnya yang audio-visual, berarti dua indra kita, yakni mata dan telinga terangsang secara bersamaan, sehingga menonton tidak perlu berimajinasi seperti dalam mendengarkan radio. Televisi dapat menghadirkan dunia nyata ke hadapan kita. Televisi juga dapat membawa kita ke tempat-tempat dimana kita belum pernah mengunjunginya, atau kita dapat melihat pertandingan olah raga tanpa kita harus datang ke tempat pertandingan. Melalui televisi kita dapat melihat tata surya tanpa harus menggunkan teleskop.
Pandangan di atas didukung oleh gagasan McLuhan bahwa “The medium is the message” Medium sudah menjadi pesan. Media menurutnya merupakan perluasan dari alat indra manusia, telepon merupakan perpanjangan telinga dan televisi adalah perpanjangan mata.[14] Dengan televisi kita bisa melihat apa belum pernah kita lihat dalam dunia nyata. Kita tidak perlu menuju papua untuk melihat betapa indahnya daerah di Raja Ampat, kita tidak perlu ke Mesir untuk melat indahnya bangunan kuno seperti Piramida keran semua itu sudah kita bisa lihat dalam layar kotak yang disebut televisi. Inilah yang menurut McLuchan kita sekarang ini sedang hidup dalam “desa global”.[15] Gagasan McLuchan ini membuka pengertian bahwa teknologi informasi merupakan pesan yang dapat membwa kita pada era yang lebih maju, juga menjadi cikal bakal perkembangan teknologi informasi. 
C.    Pengaruh Perkembangan Teknologi terhadap Media Sosial
Kepintaran manusia membuat teknologi seperti internet dapat kita rasakan tidak hanya hanya dalam komputer. Teknologi baru seperti Handphone (Telephon Seluler), ternyata juga dapat mengakses internet dengan menggunakan media baru seperti Yahoo Messanger, Blackberry Messanger dan lain sebagainya seseorang dapat berkomunikasi dengan orang lain. Informasi menjadi sangat dekat dengan kita. Fenomena ini mejadikan masyarakat “ketergantungan” terhadap teknologi informasi. Faktanya di Indonesia (terutama di perkotaan) hampir setiap orang menggunakan Handphone, mulai dari kalangan anak-anak hingga dewasa.
Kemajuan ini tentunya bisa berdampak positif dan negatif. Terlalu mudahnya masyarakat mengakses informasi membuat kejahatan semakin berkembang pula. Modus kasus “minta transfer” marak terjadi di lingkungan kita, yaitu  dimulai ketika pelanggan atau penguna HP menerima SMS yang berisi permintaan untuk mentransfer sejumlah uang ke sebuah rekening. Salah satu SMS “minta transfer” adalah sebagai berikut: "Tolong uangnya di transfer sekarang aja ke bank BNI:022-741-3***. A/n FRISKA ANANDA dan sms reply saja kalau sudah di transfer, trims". Sebagian besar penerima SMS “minta transfer” ini akan langsung menghapusnya karena tahu SMS itu penipuan. Namun, ada saja yang tertipu dengan langsung mentransfer uang ke rekening yang disebutkan. Mereka ini beranggapan, yang mengirimkan SMS memang orang yang dikenalnya atau kebetulan mereka memang sedang menunggu SMS informasi rekening dari keluarga atau temannya.
Penipuan juga terjadi dalam media sosial seperti jejaring Facebook, dengan metode keylogger dan teknik hacking oknum penipu, caranya dengan membajak akun facebook. Setelah mereka berhasil membajak akun facebook salah satu korban, mereka lalu menggunakan akun tersebut untuk berjualan dengan meng-share photo-photo produk palsu mereka ke sembarang orang yang ada dalam daftar pertemanan akun yang dibajak. Metode seperti ini biasanya lebih banyak memakan korban para pengguna facebook baru yang online melalui warnet dan komputer umum.
Kejahatan dalam media sosial justru lebih kejam dibanding realitas sosial pada umum-nya. Pencemaran nama baik, penipuan, pemalsuan identitas, semuanya mudah terjadi dalam media sosial seperti internet.
Walaupun begitu masih banyak nilai positif yang dapat kita rasakan. Seperti apa yang diaktakan McLuhan menurutnya teknologi akan mengembalikan kita menjadi satu suku lagi. Kita akan berpindah dari Negara Bangsa yang terpisah-pisah dan menjadi sebuah “global-village”.[16] Artinya pada era modern kita semakin dekat dengan negara-negara lain, layaknya sebuah desa. Diibaratkan kita tidak perlu menuju Paris untuk melihat “Menara Eiffel” karena hanya dengan menekan tombol “enter” pada komputer, kita sudah bisa melihatnya. Bahkan kita bisa lebih tahu informasi mengenai Menara Eiffel tersebut karena banyaknya arcive di dalam internet.[17]
Selain itu kita juga mengenal istilah “ruang publik” yang dikenalkan Habermass. Ranah publik tidak terlepas dari kemajuan teknologi informasi. Mengutip dari Rulli Nasrullah dalam bukunya “Komunikasi Antarbudaya di Era Budaya Siber” menyatakan;
“Kemajuan teknologi internet, ditambah dengan karakteristik media baru (new media), menyebabkan fenomena kebebasan bersuara atau ruang publik virtual (virtual sphere) berkembang semakin pesat. Misalnya melalui fenomena citizen journalism atau jurnalisme warga. Fenomena ini tidak hanya dimanfaatkan oleh warga untuk memproduksikan sekaligus mengonsumsi (produsage) informasi, melainkan juga mendapat perhatian media tradisional. Meminjam perspektif yang digunakan oleh Deuze dalam artikelnya “the future of citizen journalism” bahwa maraknya fenomena citizen journalism bisa didekati dengan menggunakan perspektif ekonomi, perspektif khalayak, dan perspektif kultur. Ketiga perspektif ini oleh Deuze disebut sebagai “a framework of convergence culture”.[18]
Fenomena citizen journalism merupakan gerakan penyebar informasi yang dilakukan warga serta peluang bisnis media dengan atau tanpa mengeluarkan uang sama sekali karena konten sepenuhnya di isi oleh warga. Peluang ini memberikan keuntungan bagi masyarakat untuk menjangkau area liputan yang begitu luas.
Sebagai contoh, citizen journalism dilakukan oleh beberapa masyarakat pengguna jejaring seperti facebook. Masyarakat memanfaatkan facebook dengan menggunkan konten “group” sebagai wadah atau tempat mereka menjual sebuah barang. Kita pernah melihat dalam jejaring facebook salah seorang teman sedang menawarkan sebuah produk seperti HP, Laptop, Jam Tangan, dan lain sebagainya secara cuma-cuma. Di sini warga menggunakan internet sebagai peluang berbisnis yang efektif dan efisien.
Dalam perspektif khalayak, citizen journalism tidak hanya memberikan peluang melibatkan masyarakat dalam memproduksi berita, melainkan juga memberikan alternatif bagi sumber informasi yang selama ini dikuasai oleh perusahaan media tradisional. Khalayak menjadi sumber informasi yang bisa memasok konten tanpa adanya penyuntingan layaknya mekanisme redaksional, sehingga akan lebih memberikan sentuhan asli dalam penyampaian opini atau kasus menurut kacamata dan juga ekspresi khalayak itu sendiri.
Kita pernah melihat dalam siaran di televisi mengenai peran masyarakat ikut serta memberitakan atau menginformasikan peristiwa penting disekitar kita. Seperti pada siaran televisi Metro TV dalam salah satu acaranya, sengaja memberikan kesempatan pada masyarakat untuk ikut serta memberitakan atau menginformasikan sebuah informasi. Tawaran ini ternyata diterima baik oleh masyarakat. Dalam satu siaran ternyata banyak sekali masyarakat yang antusias ikut menyubangkan video mengenai informasi yang mereka dapat dari tempat-tempat disekitar mereka yang memang dianggap penting dan menarik. Artinya khalayak sudah mampu menjadi sumber informasi atas peristiwa-peristiwa disekitarnya.
Perspektif terakhir, yakni fenomena citizen journalism merupakan fenomena yang membawa perubahan kepada kultur. Mulai dari kultur mengakses media informasi, kultur berinteraksi serta pengungkapan diri (self disclosure) atau pencitraan diri.[19]
Bentuk pengungkapan diri ini sering kita lihat dalam jejaring fecebook. Setiap orang  dalam jejaring facebook justru berlomba-lomba mengungkapkan identitas dirinya. Bentuk keterbukaan itu disalurkan dalan fasilitas yang disebut “wall’. Dalam banyak kasus kita melihat para pengguna facebook mengungkapkan perasaannya melalui wall tanpa terkendali. Sehingga bisa dikatakan dia lebih terbuka melalui media sosial dibanding dunia realitas sesungguhnya. 
Ruang publik yang terbentuk dalam dunia maya, bisa berupa curhatan ataupun catatan pendidikan seperti yang kita lihat dalan jejaring portal blogspot atau wordpress. Publik saat ini dengan sangat mudah mengakses internet, ini juga menandakan setiap orang bebas mengeluarkan opini ataupun pemikirannya mengenai sebuah peristiwa, atau dalam kata lain dia berhak melakukan apa saja dalam menggunakan teknologi virtual tersebut.
Alhasil ruang publik dapat menciptakan nilai keadilan yang lebih demokratis. Masyarakat lebih berperan aktif. Sehingga peran ruang publik dalam media massa juga media virtual akan menetukan arah perubahan itu sendiri. Saat ini banyak jejaring sosial yang sudah menjadi acuan yang menegakan keadilan. Komunitas-komunitas virtual misalnya memperjuangkan pemikirannya atas satu pendangan yang sama dalam komunitas itu.
Lebih jauh Everett M. Rogers (1986) mengatakan mengenai media sosial dalam Bungin yang mengatakan bahwa dalam hubungan komunikasi di masyarakat, dikenal empat era komunikasi, yaitu: era tulis, era media cetak, era media telekomunikasi, dan era media komunikasi interaktif. Dalam era terakhir media komunikasi interaktif dikenal media komputer, videotext, dan teletext, teleconferencing, TV kabel, dan sebagainya.[20]
Jika dibandingkan dengan televisi sebagai media yang secara instan menyediakan informasi kepada masyarakat. Televisi telah bertransformasi tidak sekedar media hiburan dan informasi saja. Jean Baudrillard menyinggung televisi dengan mengemukakan sebuah teori tentang hyperreal world dan simulation, yakni suatu konsep yang sepenuhnya mengacu pada kondisi realitas budaya yang virtual (maya) ataupun artificial di dalam era komunikasi massa dan konsumsi massa.[21] Realitas-realitas itu mendukung kita dengan berbagai bentuk simulasi (penggambaran dengan peniruan). Simulasi itulah yang mencitrakan sebuah realitas yang pada hakikatnya tidak senyata realitas sesungguhnya. Realitas yang tidak sesungguhnya tetapi dicitrakan sebagai realitas yang mendeterminasi kesadaran kita. Itulah yang disebut realitas semu (hyper realworld). [22]
Selanjutnya Jean Baudrillard menyatakan, media televisi mampu menampilakn simulasi atau model yang demikian intens memenuhi ruang kehidupan sosial, sehingga mengaburkan batas antara citra dengan fakta, dengan kata lain, media membentuk realitas, dan realitas tersebut sering kali palsu tanpa arti dan konteks.[23]
D.    Peranan Media Sosial dalam Pengembangan Dakwah
Media sosial adalah sebuah media online, dengan para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi dan menciptakan isi meliputi blog, jejaring sosial, forum dan dunia virtual. Blog dan jejaring sosial merupakan bentuk media sosial yang paling umum digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia.[24]
Media sosial digunakan untuk bersosialisasi satu sama lain dan dilakukan secara online yang memungkinkan manusia untuk saling berinteraksi tanpa dibatasi ruang dan waktu. Media sosial dapat dikelompokkan menjadi beberapa bagian besar yaitu:[25]
1.      Social Networks, media sosial untuk bersosialisasi dan berinteraksi (Facebook, myspace, hi5, Linked in, bebo, dll)
2.      Discuss, media sosial yang memfasilitasi sekelompok orang untuk melakukan obrolan dan diskusi (google talk, yahoo! M, skype, dll)
3.      Share, media sosial yang memfasilitasi kita untuk saling berbagi file, video, music, dll (youtube, slideshare, feedback, flickr, crowdstorm, dll)
4.      Publish, (wordpredss, wikipedia, blog, wikia, digg, dll)
5.      Social game, media sosial berupa game yang dapat dilakukan atau dimainkan bersama-sama (koongregate, doof, pogo, cafe.com, dll)
6.      MMO (kartrider, warcraft, neopets, conan, dll)
7.      Virtual worlds (habbo, imvu, starday, dll)
8.      Livecast (y! Live, blog tv, justin tv, listream tv, livecastr, dll)
9.      Livestream (socializr, froendsfreed, socialthings!, dll)
10.  Micro blog (twitter, plurk, pownce, twirxr, plazes, tweetpeek, dll)
Media sosial dapat membuat manusia berkomunikasi satu sama lain dimanapun dan kapanpun, tidak peduli seberapa jauh jarak mereka, dan tidak peduli siang atau pun malam. Saat ini media sosial memiliki dampak besar pada kehidupan di zaman modern. Seseorang yang asalnya “kecil” bisa seketika menjadi besar dengan media sosial, begitupun sebaliknya orang “besar” dalam sedetik bisa menjadi “kecil” dengan media sosial.
Banyak sekali manfaat yang akan didapat dengan memanfaatkan media sosial. Baik sebagai media pemasaran, bisnis, mencari koneksi, memperluas pertemanan, ataupun berdakwah. Tapi di lain sisi, tidak sedikit pula kerugian yang akan didapat.
Gagasan McLuhan yang mengatakan bahwa “The medium is the message”, merupakan terbukanya pintu dalam perkembangan teknologi termasuk di dalamnya media sosial. Media sosial menjadi bagian dari perkembangan itu. Media dipandang sebagai perluasan dari alat indra manusia, telepon merupakan perpanjangan telinga dan televisi adalah perpanjangan mata.[26] Maka dengan menggunakan media sosial manusia seperti saling berkomunikasi secara langsung. Hanya saja penggunaan dan kontrol terhadap media sosial saat ini masih belum tegas. Sehingga masih sering terjadi tindak kriminal dalam media.
Oleh karena itu, memanfaatkan media sosial harus dengan bijak dan arif. Menggunakan media sosial secara bijak akan memudahkan seseorang untuk belajar, mencari kerja, mengirim tugas, mencari informasi, berbelanja, ataupun berdakwah. Dalam perkembangannya media sosial digunakan dalam berbagai bentuk kegiatan, seperti pendidikan, bisnis, bahkan untuk brdakwah. Realitas yang dapat kita perhatikan saat ini misalnya dengan mencermati penggunanan media sosial seperti facebook dan twitter.  
Ustaz Yusuf Mansur misalnya yang menggunakan media sosial facebook dalam dakwahnya.  Ustaz Yusuf Mansur biasanya hanya sekedar men-share kata-kata mutiara Islam, hadits dan kutipan ayat-ayat daam Al-Quran kepada setiap orang yang men-like akun facebook miliknya.[27] Proses dakwah yang sedikit sederhana ini ternyata dirasakan efektif dan efisien.




Gambar 1.
Akun Facebook Ustaz Yusuf Mansur
Gambar di atas menunjukan sebuah realitas dakwah sederhana yang dilakukan seorang juru dakwah. Pada dasarnya dakwah dengan menggunakan jejaring facebook hanya bisa dilakukan dengan wall dan comment. Walaupun hanya sekedar men-like atau comment juru dakwah tetap bisa menyampaikan pesannya seara langsung. Komunikasi ini dilakukan dua arah ataupun secara komunkasi massal, karena yang akan menerima wall juru dakwah secara otomatis diterima para mad’u di facebook.
Selain facebook, saat ini juga telah banyak dikembangkan software aplikasi yang memberikan kemudahan dalam melakukan kegiatan dakwah. Hal lain yang bisa kita manfatkan adalah dalam hal efisiensi. Jika secara fisik kitab-kitab hadits yang jumlahnya puluhan bahkan ratusan itu, dengan kemajuan Teknologi Informasi cukup disimpan dalam sebuah komputer/flashdisk yang mudah dibawa dan dibaca dimanapun. Aplikasi tersebut antara lain:[28]
1.        Al Quran digital
2.        Haditsweb
3.        Maktabah syamilah
4.        Kitab 9 imam (Kutubu attisāh)

  1. Manfaat Tekhnologi Informasi, kelebihan dan kekurangannya:
Manfaat Teknologi Informasi sebagai pembelajaran interaktif selain memungkinkan terjadinya komunikasi tanpa batas ruang dan waktu, teknologi interaktif juga bisa dimanfaatkan untuk mencakup pembelajaran interaktif. Pembelajaran cara ini merupakan pembelajaran yang kaya media, kaya informasi, dan kaya komunikasi. Dengan menggunakan teknologi interaktif, manusia bisa belajar dari materi yang disampaikan dengan format multimedia. yang lebih utama adalah menggunakan teknologi untuk memungkinkan interaksi dengan instruktur, sesama pelajar, dan sumber belajar lain di luar batas ruang (di perusahaan lain, negara lain, benua lain, dan di industri yang lain) agar pembelajaran dan pengalaman belajar menjadi lebih berarti dengan hasil yang lebih baik. Survei di bidang pembelajaran bahasa Inggris membuktikan bahwa pembelajaran di kelas dengan kualitas guru yang baik, yang diperkaya dengan pembelajaran berbasis teknologi interaktif dapat mengurangi waktu belajar secara signifikan.
Selain itu dengan mengetahui manfaat media sosial serta kelemahannya akan lebih membantu untuk melancarkan segala tujuan yang berkaitan dengan kemajuan teknologi.

 Manfaat Media Sosial :

  • Menambah banyak teman.
  • Sarana untuk berbagi cerita, ilmu dan pengalaman.
  • Sarana untuk berekspresi.
  • Sarana untuk berjual beli online, mencari apa saja yang diperlukan.
  • Interaktif (Dapat berinteraksi dengan teman lama yang jaraknya cukup jauh dan bisa menjalin tali silaturahmi).
  • Mendapatkan ilmu pengetahuan.
  • Mengetahui berita-berita mancanegara yang update dengan menggunakan jejaring sosial tersebut.

Kekurangan Media Sosial :

  • Tidak ada batasan untuk memanfaatkan media sosial, sehingga masyarakat yang menggunakannya kalau tidak hati-hati seperti kecerobohan bias berakibat buruk
  • Masih banyak perubahan-perubahan pada media sosial karena  persaingan yang tinggi.
  • Tidak adanya kontrol yang ketat terhadap penggunaan situs jejaring sosial.



      Da’i yang memanfaatkan betul-betul penggunaan media sosial,antara lainUstaz Yusuf Mansur dan A ’a Gym tidak hanya berceramah ketika ada undangan-undangan saja melainkan ustaz sering memberikan nasihat-nasihat atau masukan di akun Facebook nya. Untuk itu masyarakat cukup mencari di youtube untuk melihat ceramah para ustadz, lebih memudahkan masyarakat untuk menambah ilmu agamanya. Masyarakat cukup duduk di ruang tamu, melihat di layar komputer (juga smatphone dan tablet)  yang isinya tentang pendidikan dan dakwah agama Islam, dan dapat diikuti oleh ribuan audience.

F.     Penutup
Media sosial memberikan banyak sekali manfaat baik dan bisa memberikan dampak buruk. Baik bila digunakan untuk pembelajaran informasi dan buruk bila digunakan untuk hal yang negatif. Pada akhirnya nilai positif atau negatif produk teknologi akan ditentukan oleh niat dan motivasi yang akan menjadi penentu apakah suatu sarana akan menjadi bermanfaat atau mudharat.
Media sosial ini memungkinkan penggunanya di seluruh dunia untuk saling berkomunikasi dan berbagi informasi dengan cara saling mengirimkan email, menghubungkan komputer satu ke ke komputer yang lain, mengirim dan menerima file dalam bentuk text, audio, video, membahas topik tertentu pada newsgroup, website social networking dan lain-lain.
Pemanfaatan media sosial sebagai media berdakwah sangatlah efektif, karena didukung oleh sifatnya yang tidak terbatas ruang dan waktu. Materi keislaman dan dakwah bisa disebarkan dengan cepat dan efisien. Dari segi biaya pun menjadi sangat murah. Informasi yang disebarkan lewat media sosial dapat menjangkau siapapun dan dimanapun asalkan yng bersangkutan mengakses internet. Umat Islam bisa memanfaatkan teknologi itu untuk kepentingan bisnis Islami, silaturahmi dan lain-lain. Oleh sebab itu, umat Islam harus mampu menguasai dan memanfaatkan sebesar-besarnya perkembangan teknologi.
Pada hakekatnya metode dan sarana untuk berdakwah sangat banyak dan luas atau bahkan mungkin tidak akan ada batasnya. Sebab semua yang bisa dikerjakan oleh manusia dan apa yang ada di muka bumi ini selagi tidak berbenturan dengan doktrin Islam, maka hal itu boleh dijadikan sebagai metode dan sarana untuk berdakwah. Akan tetapi, ada kekurangan bila berdakwah melalui media sosial diantaranya sasarannya hanya terbatas pada para pengguna internet semata. Namun demikian berdakwah melalui media sosial memiliki cakupan yang sangat luas hingga pada tahapan international bukan lagi nasional[29]






[1] Penulis DosenIlmu Komunikasi pada Fakultas Agama Islam UMJ dan UIN Jakarta
[2]Abd. Rasyid Shaleh; Manajemen Dakwah Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1993), cet. ke-3, h.
[3] Farid Ma’ruf Noor, Dinamika dan Akhlak Dakwah, (Surabaya: PT. Bina Ilmu,1981), h. 28
[4] Kata Ad-da’watu (الدعوة) berasal dari kata da’aa – yad’uu (يدعو - دعا). Kata ini punya arti: طلب thalaba (meminta), حث على  hatstsa ‘alaa… (menganjurkan kepada…) dan ساق إلى saaqa ilaa… (menuntun kepad…)-(kamus Al-mu’jamul Wasith, hal.698) dan Dalam Ilmu Tata Bahasa Arab kata dakwah berbentuk sebagai isim mashdar. Kata ini berasal dari fi’il (kata kerja) da’a-yad’u–da’watun, artinya memanggil, mengajak atau menyeru (lihat Asmuni Syukir, Dasar-dasar Strategi Dakwah Islam, cet. ke-1, h. 17)
[5] Rodani, H. Komunikasi dan Dakwah. (Jakarta: Azhikra, 2010), Vol 1, h. 1
[6] Tutty Alawiyah AS, Strategi Dakwah di Lingkungan Majlis Taklim  (Bandung: Mizan, 1997),  h. 25.
[7] (UGM, 2003, http://luk.staff.ugm.ac.id)
[8] Zaini Muhtaram, Dasar-Dasar Manajemen Dakwah (Yogyakarta: Al-Amin Press dan IFKA, 1966), h.14.
[9] Kumanto Sunarto, Pengantar Sosiologi, (Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi UI, 2004) h. 26
[10] Atwar Bajari dan Shala Tua Saragih, Komunikasi Kontekstual Teori dan Praktik Komunikasi Kontemporer, (Bandung: Rosda, 2011) h. 483
[11] Atwar Bajari dan Shala Tua Saragih, Komunikasi Kontekstual Teori dan Praktik Komunikasi Kontemporer, (Bandung: Rosda, 2011) h. 483
[12] Werner J. Severin – James W. Tankard, Teori Komunikasi, (Jakarta: Kencana, 2007) h. 321-324
[13] Werner J. Severin – James W. Tankard, Teori Komunikasi, (Jakarta: Kencana, 2007) h. 321-324
[14] Jalaluddin Rakhmat, Psikologi Komunikasi, (Bandung: Rosda, 2008) h. 220
[15] Jalaluddin Rakhmat, Psikologi Komunikasi, h. 458-459
[16] Werner J. Severin – James W. Tankard, Teori Komunikasi, (Jakarta: Kencana, 2007) h. 336
[17] Rulli Nasrullah, Komunikasi Antarbudaya di Era Budaya Siber, (Jakarta: Kencana, 2012) h. 140
[18] Rulli Nasrullah, Komunikasi Antarbudaya di Era Budaya Siber, (Jakarta: Kencana, 2012) h. 145-148
[19] Rulli Nasrullah, Komunikasi Antarbudaya di Era Budaya Siber, (Jakarta: Kencana, 2012) h. 150
[21] Atwar Bajari dan Shala Tua Saragih, Komunikasi Kontekstual Teori dan Praktik Komunikasi Kontemporer, (Bandung: Rosda, 2011) h. 485
[22] Atwar Bajari dan Shala Tua Saragih, Komunikasi Kontekstual Teori dan Praktik Komunikasi Kontemporer, (Bandung: Rosda, 2011) h. 485
[23] Atwar Bajari dan Shala Tua Saragih, Komunikasi Kontekstual Teori dan Praktik Komunikasi Kontemporer, (Bandung: Rosda, 2011) h. 485
[24] Wikipedia. Media Sosial, diakses pada tanggal 3 April 2014 dari  http://id.wikipedia.org/wiki/Media_sosial
[25] Rafi Saumi Rustian. Apa itu Media Sosial, diakses pada tanggal 3 April 2014 dari http://www.unpas.ac.id/apa-itu-sosial-media/
[26] Jalaluddin Rakhmat, Psikologi Komunikasi, (Bandung: Rosda, 2008) h. 220
[27] Ustad Yusuf Mansur, Akun facebook, diakses pada tangga l4 April 2014 dari https://www.facebook.com/pages/Ustadz-Yusuf-Mansyur/760548957308333?fref=ts
[28] Ahmad Sudardi, Penggunaan Teknologi Informasi dalam Dakwah, diakses pada tanggal 4 April 2014 dari http://ahmadsudardi.blogspot.com/2013/02/penggunaan-teknologi-informasi-dalam.html
[29]  Pengumpulan bahan-bahan dibantu oleh Sdr Ahmad Tedy P
r Ahmad Tedy P


Tentang Drs. Zamris Habib, M.Si

Drs. Zamris Habib, M.Si, saat ini mengajar Ilmu Komunikasi, Media dan Teknologi Pendidikan pada UIN (Universitas Islam Negeri) Syarif Hidayatullah Jakarta dan UMJ (Universitas Muhammadiyah Jakarta) sejak tahun 1995. Dari tahun 1977 bekerja di Pustekkom (Pusat Teknologi Komunikasi dan Informasi) Departemen Pendidkan Nasional sampai pensiun pada awal tahun 2006. Selama di Pustekkom pernah menjabat Kabid Analisa dan Evaluasi (1998), dan Kabid Pengembangan Model Pembelajaran (2001) Sebelumnya pada tahun 1992 pernah menjabat koordinator Program Siaran Radio Pendidikan (SRP) untuk penataran guru SD dan program SRP untuk penyetaraan D2 guru SD. Pria yang lahir 8 Januari 1950 di Situjuh Payakumbuh adalah lulusan program Magister Manajemen Komunikasi Universitas Indonesia ini beberapa kali mengikuti training di bidang pendidikan jarak jauh/terbuka dan komunikasi di University Western of Australia Perth, University of Technology Sidney, Warner Bros (WB) Film Production di Gold Coast Australia; training tetang technology applications for education di Innotec Center, Manila Philipina, dan NHK Studio, Ashahi Shimbun, University of Tokyo, Jepang. Aktif mengikuti seminar nasional/internasional teknologi pendidikan, distance/open education, e-learning, dll. Sewaktu mahasiswa menulis di berbagai media, terakhir redaksi Jurnal TEKNODIK dan Buletin FORUM KOMUNIKASI Pustekkom sd. 2005. Anak Minang yang bergelar Datuk Paduko Rajo ini mempunyai motto hidupnya “Bahwa dibalik kesulitan itu terdapat kemudahan, dan dibalik kesulitan yang sama terdapat kemudahan2 yang lain, dan setelah selesai mengerjakan sesuatu maka mulai mengerjakan yang lain serta Kepada Allah selalu berharap”. Motto ini terinspirasi dari Al Qur’an surat Al Insyirah. Pria yang hoby membaca buku-buku filsafat, politik, pendidikan, komunikasi dan agama ini beristerikan Lely dan telah mempunyai 4 orang anak (Liza, Alfi, Putri dan Ganto), sekarang kakek yang sudah mempunyai tiga orang cucu (Zidan,Virza dan Najwa) ini tinggal di Perumahan Depdiknas Blok A No 5, Cipayung Ciputat Tangerang, selain mengisi waktu dengan mengajar dan membaca juga disibukan dengan momong tiga orang cucu yang sedang lucu2nya


Top