Bank Informasi

Twitter dan facebook

Buku tamu

Recently Commented

Recently Added

share samping

Video

MOST RECENT

Yahoo chat

Album

Blog Archive

    • Latest Stories

      What is new?

    • Comments

      What They says?

Bustanul Ulum Situjuah, Dulu, Kini dan Esok

 












Bustanul Ulum Dulu, Kini dan Esok
Oleh Drs. Zamris Habib, M.Si (Dt Paduko Rajo)[i]

Bila saya layangkan ingatan (flashback) kebelakang dan yang masih terbayang adalah disaat ulang tahun seperempat Madarasah Bustanul Ulum pada tahun 1956. Pada tahun 1956 adalah masa jaya yang ditandai dengan peringatan Seperempat Abad dengan berbagai acara selama tiga hari tiga malam, diisi dengan acara pameran, ceramah agama dan muzakarah. Acara puncak dilaksanakan pada tanggal 20 Maret 1956  dengan tabligh akbar dari berbagai ulama dan ramai dikunjungi oleh masyarakat tidak saja dari Situjuah tapi juga dari luar daerah.

Kalau kita lihat Ranah Minang terkenal dengan ulama-ulama besar yang terkenal ke seluruh Nusantara. Situjuah juga tak ketinggalan dengan ulama yang juga terkenal seperti Syekh Hamzah, H.Fachruddin Hs Dt Majo Indo, Haji Abdul Hamid, Engku Marah Zuldin, Engku Dt Mustafa Situjuah Gadang, Engku Habiburrahman, H Sy Dt Simagayur NM, Engku Darwis Tungkar Haji Saat Ladang Laweh dan lain-lain yang telah berjasa merintis Madrasah Bustanul Ulum yang secara resmi berdiri pada tanggal 20 Maret 1931.
Perjalanan Madrasah Bustanul Ululm telah mengalami pasang surut, di zaman Belanda awal berdirinya dengan penuh semangat berapi-api akan tetapi setelah dicurigai Belanda dan diawasi mulai para penyelenggara dan santri ada sedikit kekhawatiran, namun para santri yang akan menuntut ilmu agama masih banyak berdatangan, di zaman penjajahan Jepang mulai menurun lagi.
Setetah kembali mengalami kemajuan di zaman kemerdekaan, mulai banyak lagi para santri berdatangan di berbagai daerah, dari daerah Suliki, Kabupaten Tanah Datar, dari Riau dan bahkan dari Malaysia.
Pada tahun 1956 adalah masa jaya yang ditandai dengan peringatan Seperempat Abad seperti yang disebutkan tadi.
Akan tetapi sewaktu terjadi perang PRRI antara pusat dan daerah Sumatera Barat akhirnya dikuasai sebagian oleh orang-orang komunis Dampaknya sangat terasa pada perkembangan Bustanul Ulum, bahkan pengurusnya pun disusupi juga oleh unsur-unsur komunis. Roda terus berputar dan hari serta tahun pun berlalu setelah pemberotakan G30S/PKI pada tahun 1965 Madrasah Bustanul Ulum mendapat perhatian dimana tahun 1966 murid baru mencapai puncaknya lebih dari 40 orang yang mendaftar kelas satu,  sebelumnya tidak pernah terjadi. Hal ini kemungkinan adalah tempat yang aman bagi orang tua untuk mendidik anaknya dengan pelajaran agama dimana sebagai imbas dari kekhawatiran mereka terhadap ancaman ajaran komunis sebelumnya.
Kejayaan ini tidak berangsung lama hanya sampai awal 1980’an dan pada tahun 1980’an  ini mulai menurun kembali. Hal ini mungkin disebabkan beberapa factor antara lain factor internal dimana Madrasah Bustanul Ulum kurang berbenah diri terutama sulit mencari guru yang mau mengabdi, masalah manajemen dan juga kekurangan sarana dan prasarana termasuk gedung yang sudah sangat tua.
Setelah Ayahanda Haji Habiburrahman Dt Nan Kayo-kayo meninggal dunia  tahun 1992  pada tahun 1994 madrasah ini mengamankan kekayaan berupa sawah dan tanah maka didirikanlah Yayasan Bustanul Ulum pada tahun 1994 dengan pendirinya 8 orang 1. Ibu Nursilah, 2. Zamris Habib Dt Paduko Rajo, 3. Syafri Dt Mili, 4. Almakmur Banda dalam, 5. H Hasan Basri Situjuah Gadang, 6. Asri Fachrudin Situjuah Batua, 7. Masdar Darwis Tungkar, dan 8, Dt Paduko sindo Ladang Laweh.
Walaupun yayasan sebagai Badan yang resmi menaungi Bustanul Ulum akan tetapi perjalanannya tetap terseok-seok dan sebagian pendiri yayasanpun dewasa ini sudah meninggal dunia.
Sehubungan dengan 4 orang pendiri (Pembina) Yayasan Bustanul Ulum telah berpulang kerahmatullah maka pada hari selasa 28 Desember 2010 bertempat di Madrasah Bustanul Ulum, Dewan Pembina Yayasan Bustanul Ulum telah disempurnakan dengan mengangkat Ibu Syahriawati (Bandar Dalam), Dt Paduko Sindo (Situjuah Batua) dan Ustaz Dasril (Ladang Laweh), sebagai pengganti Dewan Pembina lama yang sudah meninggal. Sehingga sekarang ini Dewan Pembina menjadi tujuh orang yaitu H Hasan Basri (Situjuah Gadang), H Syafri Dt Mili (Banda Dalam), H Zamris Habib Dt Pdk Rajo (Banda Dalam),  Musdar Darwis (Tungkar), Ibu Syahriawati (Bandar Dalam), Dt Paduko Sindo (Situjuah Batua) dan Ustaz Dasril (Ladang Laweh).
Pada rapat tersebut seluruh Dewan Pembina sebanyak tujuh orang hadir dan pada kesempatan tersebut juga telah diputuskan oleh Dewan Pembina mengangkat Pengurus Yayasan yang diketuai oleh BapakHaji Fachri Syahrudin dan pada kesempatan tersebut juga mengangkat Dewan Pengawas.
Struktur kepengurusan Yayasan Bustanul Ulum yang baru disesuaikan dengan Undang-undang Yayasan yang baru, terdiri dari Dewan Pembina, Dewan Pengawas dan Pengurus. Yayasan BU  saat ini memiliki tiga kegiatan Utama, yakni Taman Kanak-kanak, Madrasah Diniyah Awaliah (MDA) dan Panti Asuhan yang bertempat di Lurah Pantai Banda Dalam. Khusus MDA yang baru berjalan beberapa bulan ini dipimpin oleh Ustaz Zul dan mendapat appresiasi dari masyarakat dimana sampai bulan Desemberr 2010 telah mendaftar 40 orang siswa yang akan mendalami Agama Islam.
 Ada beberapa hal yang mendesak yang sedang dihadapi oleh Yayasan Bustanul Ulum antara lain :
1.    Masalah Legalitas administrative
Sebagaimana telah diuraikan di atas bahwa kepengurusan Yayasan telah disempurnakan dan sudah didaftarkan ke Notaris akan tetapi perlu didaftarkan ke Lambaran Negara.
2.    Inventarisasi kekayaan/wakaf
Ada beberapa tanah atau sawah milik Yayasan yang sekarang ada ditangan orang lain bahkan ada statusnya yang tergadai, oleh karena  itu diharapkan kepada Pengurus agar meinventarisir kembali harta kekayan yang sudah diwakafkan oleh masyarakat dan mengambil kembali untuk dikekelola dan dimanfaatkan untuk kepentingan Yayasan dalam melaksanakan pendidkan
3.    Akte surat wakaf
Pada waktu pembentukan Yayasan tahun 1994 saya telah menyerahkan surat tanah wakaf Bustanul Ulum yang dikeluarkan oleh Kantor Agraria Kabupaten Limapuluh Kota, berdasakan surat tersebut Sdr Almakmur selaku sekretaris Yayasan mengajukan Akte atas kekayaan surat tersebut. Masalahnya setelah Sdr Almakmur meninggal dunia surat/akte tersebut tidak ditemukan menurut beberapa sumber yang dapat dipercaya bahwa sarat akte tersebut ada di tangan seseorang, oleh karena itu diminta kepada Dewan Pengurus untuk memintanya.
4.    Pembenahan Manajemen Panti Asuhan Lurah Pantai
Masalah panti asuhan yang di Lurah Pantai sepenuhnya milik Yayasan dan ada kesan sekarang dari yang mengelola Panti Asuhan bahwa panti tersebut bukan milik Bustanul Ulum. Perlu diketahui bahwa saya secara pribadi ikut merancang berdirinya panti tersebut dimana Sdr Almakmur (alm) datang ke Jakarta dan kalau ada masalah beliau sering menghubungi saya dan Bapak H Fachri Syahruddin di Medan.
Sekarang banyak masukan yang sampai kepada saya bahwa pengelolaan Panti Asuhan perlu dibenahi oleh sebab itu kepada pengurus diharapkan mengontrol sebenuhnya manajemen Panti terutama pengeluaran pemasukan keuangan, sumbangan masyarakat dan pemerintah serta inventarisasi harta kekayaan yayasan baik harta tetap dan harta bergerak, karena harta tersebut berasal dari zakat, sedekah dan wakaf masyarakat yang kita pertanggungjawabkan
5.     Pengembangan Taman Kanak-kanak Islam
Taman Kanak-kanak inilah selama ini yang menyelamatkan kita bahwa Bustanul Ulum tidak mati, di gedung ini tempat kita berada sekarang yang merupakan sumbangan orang tua-tua kita dulunya masih ada kekgiatan pendidikan terhadap anak-anak kita. Seandainya selama ini tidak TK maka alangkah malunya dan berdosanya kita gedung dan yang telah disumbangan oleh orang tua-tua  kita biarkan terlantar. Oleh sebab itu atas nama Yayasan saya mengucapkan terima kasih banyak kepada Ibu Kepala dan guru-guru TK yang selama ini telah mengabdikan diri walaupun Yayasan tidak bisa memberikan imbalan yang setimpal, semoga Allah yang membalas pengabdian ibu guru selama ini.
Dibalik itu semua kita perlu meningkatkan dan mengembangan menjadi TK teladan  nantinya di tingkat Kabupaten dengan melengapi sarana dan fasilitas serta guru-gurunya.
6.    Madarasah Diniyah Awaliah (MDA)
Dimulainya pendidikan agama dengan berdrinya MDA dalam pandangan masyarakat Situjuh berarti Bustanul Ulum sudah bangkit kambali, ini yang sering saya dengar dari masyarakat. Memang kami merasa sangat kehilangan dengan meninggal Sdr Almakmur yang menjadi perpanjangan Yayasan dalam mengerakan kegiatan pendidikan di Bustanul ulum ini. Setelah beberapa tahun terjadi kevacuman” bak pucuak dicinto ulam tibo” Sdr Zul menawarkan diri untuk mengelola MDA ini, syukur yang sebesar-besar kita ucapkan kepada Allah SWT. Sehingga banyak yang mengatakan “lah bangkik batang tarandam” dengan adanya kegiatan MDA ini
7.    Pembangunan Gedung
Gedung yang tiga lokal dibangun sekitar tahun 1940’an dan tambahan yang bertingkat dua di ujung dibangun tahun 1960’an. Kondisinya sudah sangat parah dan bahkan sebenarnya sudah tidak layak lagi untuk ditempati. Tetapi apa yang hendak dikata inilah kenyataan di gedung yang sangat (saya ulangi sangat) sederhana ini kita terpaksa menyelenggarakan pendidikan TK dan MDA. Dengan demikian kepada Pengurus agar dapat menggali kekayaan yang ada dan mencari sumber-sumber lain baik di masyarakat ataupun dari Pemerintah agar gedung yang sudah sangat tua ini dapat diremajakan
8.    Menggerakkan partisipasi masyarakat dan alumni
Bustanul Ulum tak akan bisa berkembang  tanpa dukungan para alumni dan masyarakat khususnya masyarakat Situjuah Limo Nagari, karena lembaga ini adalah milik masyarakat. Gedung dan tanah  yang kita tempati ini dulunya adalah wakaf dari orang tua-tua kita dan sekarang masih bisa kita manfaatkan untuk pendidikan anak-anak cucu kita, tentu pertanyaannya adalah apakah kita tidak malu kalau kita yang hidup sekarang tidak  ikut serta dalam melanjutkan pembangunan Bustanul Ulum ini bagi generasi selanjutnya seperti para orang tua kita dahulunya .
9.    Menjalin hubungan dengan Pemerintah Daerah
Harapan kita kepada Pemerintah Daerah 50 Kota, Kecamatan Situjuah dan Seluruh Wali Nagari Situjuah ikut mendukung pengembangan Yayasan ini karena Yayasan Bustanul Ulum adalah aset bagi Pemerintah yang ikut mencerdasan anak bangsa khusunya masyarakat Situjuah. Oleh karena itu kepada pengurus kita harapkan untuk menjalin hubungan dengan Pemerintah.
 
Ke depan, apa yang bisa kita harapkan
Di era globalisasi ini pendidikan sangat memegang peranan penting, Islam sebagai agama yang menjunjung ilmu pengetahuan mendorong kita untuk menjadikan generasi anak Situjuah ini agar dapat berperan di tingkat nasional nantinya. Yayasan Bustanul Ulum kita kembangan untuk mencetak manusia intelektual yang beriman. Implementasinya adalah dengan mengembangkan Madrasah Ibtidaiyah atau SD Islam, dan SMP Islam. Baik sekolah yang di bawah Kementerian Agama ataupun yang bernaung di bawah Pemda dan Kemendikbud. Yang terpenting adalah anak-anak kita harus diberikan pendidikan dasar agama Islam
 
 




[i] Alumni Madrasah Bustanul Ulum 1969
Disampaikan pada acara Temu Alumni dalam rangka Peringatan Hari Ulang Tahun ke 81Bustanul Ulum Situjuah Tanggal 8 April 2012 Situjuah Banda Dalam Kab 50 Kota


Tentang Drs. Zamris Habib, M.Si

Drs. Zamris Habib, M.Si, saat ini mengajar Ilmu Komunikasi, Media dan Teknologi Pendidikan pada UIN (Universitas Islam Negeri) Syarif Hidayatullah Jakarta dan UMJ (Universitas Muhammadiyah Jakarta) sejak tahun 1995. Dari tahun 1977 bekerja di Pustekkom (Pusat Teknologi Komunikasi dan Informasi) Departemen Pendidkan Nasional sampai pensiun pada awal tahun 2006. Selama di Pustekkom pernah menjabat Kabid Analisa dan Evaluasi (1998), dan Kabid Pengembangan Model Pembelajaran (2001) Sebelumnya pada tahun 1992 pernah menjabat koordinator Program Siaran Radio Pendidikan (SRP) untuk penataran guru SD dan program SRP untuk penyetaraan D2 guru SD. Pria yang lahir 8 Januari 1950 di Situjuh Payakumbuh adalah lulusan program Magister Manajemen Komunikasi Universitas Indonesia ini beberapa kali mengikuti training di bidang pendidikan jarak jauh/terbuka dan komunikasi di University Western of Australia Perth, University of Technology Sidney, Warner Bros (WB) Film Production di Gold Coast Australia; training tetang technology applications for education di Innotec Center, Manila Philipina, dan NHK Studio, Ashahi Shimbun, University of Tokyo, Jepang. Aktif mengikuti seminar nasional/internasional teknologi pendidikan, distance/open education, e-learning, dll. Sewaktu mahasiswa menulis di berbagai media, terakhir redaksi Jurnal TEKNODIK dan Buletin FORUM KOMUNIKASI Pustekkom sd. 2005. Anak Minang yang bergelar Datuk Paduko Rajo ini mempunyai motto hidupnya “Bahwa dibalik kesulitan itu terdapat kemudahan, dan dibalik kesulitan yang sama terdapat kemudahan2 yang lain, dan setelah selesai mengerjakan sesuatu maka mulai mengerjakan yang lain serta Kepada Allah selalu berharap”. Motto ini terinspirasi dari Al Qur’an surat Al Insyirah. Pria yang hoby membaca buku-buku filsafat, politik, pendidikan, komunikasi dan agama ini beristerikan Lely dan telah mempunyai 4 orang anak (Liza, Alfi, Putri dan Ganto), sekarang kakek yang sudah mempunyai tiga orang cucu (Zidan,Virza dan Najwa) ini tinggal di Perumahan Depdiknas Blok A No 5, Cipayung Ciputat Tangerang, selain mengisi waktu dengan mengajar dan membaca juga disibukan dengan momong tiga orang cucu yang sedang lucu2nya


Top