Bank Informasi

Twitter dan facebook

Buku tamu

Recently Commented

Recently Added

share samping

Video

MOST RECENT

Yahoo chat

Album

Blog Archive

    • Latest Stories

      What is new?

    • Comments

      What They says?

Gaya Komunikasi Dakwah Mama Dede

GAYA KOMUNIKASI (COMUNICATION STYLE) DAKWAH MAMA DEDE DALAM PROGRAM “MAMA DAN AA” DI STASIUN TELEVISI
Oleh ZAMRIS HABIB

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dakwah yang pada intinya menyeru kepada Allah, adalah kewajiban setiap muslim. Kesadaran ini penting ditanamkan pada setiap muslim. Allah swt berfirman:
“ Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah, dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS. An-Nahl : 125)
Gaya komunikasi efektif mampu menghasilkan perubahan sikap (attitude change) pada orang yg terlibat dalam komunikasi. Tujuannya adalah memberikan kemudahan dalam memahami pesan yang disampaikan antara pemberi dan penerima sehingga bahasa lebih jelas, lengkap,pengiriman dan umpan balik seimbang dan melatih penggunaan bahasa nonverbal secara baik.
Komunikasi merupakan bagian dari salah satu tindakan yang mempengaruhi yang dapat menggunakan cara persuasif. Maksud komunikasi persuasif dalam kerangka dakwah adalah komunikasi yang senantiasa berorentasi pada segi-segi psikologis mad’u (audiens) dalam rangka membangkitkan kesadaran mereka untuk menerima dan melaksanakan ajaran Islam. Untuk berhasilnya komunikasi persuasif, perlu dilaksanakan secara sistematis.
Menurut Harold D. Lasswell guna memahami komunikasi massa kita harus mengerti unsur-unsur yang diformulasikan olehnya dalam bentuk pertanyaan, who says what in chanel to whom and with what effect? Perkembangan media informasi, khususnya televisi, membuat dunia semakin dekat saja meskipun arus informasi yang mengalir akan mempunyai dampak, baik itu positif maupun negatif. Televisi saat ini telah menjadi suatu kebutuhan yang tidak dapat dipisahkan dari aktifitas dan kehidupan manusia.. Bagi banyak orang televisi adalah teman, televisi membujuk kita untuk mengonsumsi lebih banyak dan lebih banyak lagi. Televisi memperlihatkan bagaimana kehidupan orang lain dan memberi ide tentang bagaimana menjalani hidup ini. Televisi mampu memasuki relung-relung kehidupan.
Tayangan program “Mamah dan Aa” sebuah talk show yang berisi ajaran nilai-nilai dakwah yang berpedoman kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Acara ini juga berfungsi sebagai medium penyeimbang (balance), refleksi dan koreksi terhadap persoalan Agama Islam yang dikupas secara interaktif dan menyeluruh. Hadirnya Mamah Dedeh yang memiliki keahlian dalam bidang ilmu keagamaan yang berperan sebagai narasumber, dalam acara ini Mamah tidak hanya sendiri namun didampingi oleh Abdel sebagai host atau pembawa acara. Acara Mamah dan Aa ditayangkan setiap hari pagi pukul 05.00-06.00 WIB di INDOSIAR dan siaran ulangnya di ELSHINTA jam 10.00-11.00.
Acara Mamah dan Aa pernah menempati sharing audience kedua pada program televisi yang paling memberikan model perilaku yang baik: 1. Kick Andy (Metro TV) 16.0% 2. Mamah dan Aa (Indosiar) 9.9% 3. Mario Teguh The Golden Ways (Metro TV) 8.5% 4. Jalan Sesama (Trans 7) 3.3% 5. John Pantau (Trans TV) 3.3% 6. Lainnya 59.0% (Lihat Harian Kompas pada kolom Kompasiana Baru-Jakarta 23 February 2010)
Masalahnya adalah bagaimana program Mamah dan Aa mempertahankan eksistensinya selama ini dan apa keunggulan pada program acara ini dengan program religi lainnya. Deddy Mulyna dalam karyanya, yang berjudul “Komunikasi Efektif,” menjelaskan bahwa komunikasi itu memiliki berbagai jenis, gaya dan karakter yang berbeda yang dapat kita temui di muka bumi ini. Sebagai seorang pakar komunikasi, Mulyana menambahkan bagaimana seseorang mampu membangun citra dirinya melalui komunikasi efektif ketika akan berhadapan dengan ‘orang-orang Asing’, terutama mereka yang punya latar belakang berbeda-beda.
Model komunikasi dapat dipetakan menjadi dua hal, yaitu komunikasi konteks tinggi dan komunikasi konteks rendah. Komunikasi konteks tinggi adalah komunikasi yang bersifat implisit dan ambigu, yang menuntut penerima pesan agar menafsirkannya sendiri. Komunikasi konteks tinggi bersifat tidak langsung, tidak apa adanya. Ciri komunikasi model ini yaitu kalau mau mengutarakan sesuatu pesan cenderung dengan basa-basi terlebih dahulu, bahkan sering menggunakan kata-kata kiasan yang sekiranya bisa menyentuh, dengan tidak menyebutkan pesan secara langsung.

Hal ini akan dikaji dari sudut teori gaya komunikasi (communication style) dakwah Mama Dedeh dalam progam “Mamah dan Aa” yang selama ni dianggap pemirsa sangat efektif dalam komunikasi dakwahnya apakah gaya komunikasi “high context atau low context”
Berdasarkan latar belakang tersebut di atas penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dan menuangkannya dengan judul “GAYA KOMUNIKASI DAKWAH MAMA DEDEH MELALUI TELEVISI (Telaah Program Mamah dan Aa’ di Indosiar)”

A. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan diatas, Penulis mengidentifikasi masalah sebagai berikut:
1. Gaya komunikasi apakah yg selama ini digunakan oleh Mama Dedeh ?
2. Faktor2 apa saja yang menjadi daya tarik dari Dakwah Mama Dedeh sehingga program “Mama dan Aa” bisa bertahan dampai sekarang?

B. Pembatasan Masalah
Dalam penelitian ini dibatasi kepada pembahasan gaya komunikasi efektif Mama Dede dalam program dakwah “Mama dan Aa” yang disiarkan melalui Televisi Indosiar
C. Perumusan Masalah
1. Bagaimana sosok Mamah Dedeh sebagai pemateri program siaran Mamah dan Aa?
2. Bagaimana gaya komunikasi yang selama ini digunakan oleh Mama Dedeh sehingga acaranya masih bertahan sampai hari ini ?
D. Tujuan Penelitian.
Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengkaji gaya komunikasi dakwah Islam melalui media televisi.

E. Manfaat Penelitian
Sebagai dasar bagi studi-studi selanjutnya, dan akan menambah jumlah studi mengenai penggunaan media massa (televisi) untuk kepentingan dakwah Islam.
F. Sistematika Penulisan
Bab Satu : Latar belakang masalah,
Bab Dua : Landasan teoritis dan kerangka teori
Bab Tiga : Metodologi Penelitian
Bab Empat : Hasil Penelitian
Bab Lima : Kesimpulan yang terdiri dari Kesimpulan dan Saran

BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA TEORI
A. GAYA KOMUNIKASI (COMMUNICATION STYLE)
Identitas dan citra-diri kita di mata orang lain dipengaruhi oleh cara kita berkomunikasi. Penampilan kita (termasuk busana dan gaya rambut) serta tas akan memberi kesan kuat tentang siapa kita. Begitu juga cara berbicara, termasuk kata-kata yang dipilih, kelancaran, kecepatan, dan intonasi suara.
Keterampilan berkomunikasi melalui “gaya komunikasi” mengisyaratkan kesadaran diri pada level paling tinggi. Untuk memahami gaya berkomunikasi maka setiap orang harus berusaha menciptakan dan mempertahankan gaya komunikasi personal sebagai ciri khas pribadinya, gaya adalah kepribadian. Memang sulit untuk mengubah gaya komunikasi, sulit pula memaksa orang mengubah gaya komunikasi, karena “gaya komunikasi” melekat pada kepribadian seseorang.
Lima Pondasi Membangun Komunikasi Efektif
1. Berusaha benar2 mengerti orang lain (emphatetic communication)
2. Memenuhi komitmen / janji
3. Menjelaskan harapan
4. Meminta maaf dg tulus ketika membuat kesalahan
5. Memperlihatkan integritas pribadi

Menurut Kumar (2000), komunikasi efektif
antar pribadi mempunyai 5 ciri:
1. Keterbukaan
2. Empati
3. Dukungan
4. Rasa positif
5. Kesetaraan

Hukum komunikasi “REACH”
1. Respect (sikap menghargai)
2. Empathy (kemampuan mendengar)
3. Audible (dpt didengarkan/dimengerti
dg baik)
4. Clarity (jelas)
5. Humble (rendah hati)

Beberapa Tampilan Gaya Komunikasi
Gaya Umum Komunikasi
“Good communication skills require a high level of self-awareness. Understanding your personal style of communicating will go a long way toward helping you to create good and lasting impressions on others. By becoming more aware of how others perceive you, you can adapt more readily to their styles of communicating. This does not mean you have to be a chameleon, changing with every personality you meet. Instead, you can make another person more comfortable with you by selecting and emphasizing certain behaviors that fit within your personality and resonate with another”
Terdapat tiga Gaya Komunikasi
Aggressive
Passive
Assertive

1. Gaya Agresif
Komnikator agresif memiliki sifat mempertahankan diri dan hak-haknya secara langsung namun terkadang berperilaku tidak pantas. Komunikasi yang digunakakan adalah bahasa verbal yang terkesan melecehkan orang lain. Komunikator agresif yang demikian berasal dari pribadi yang rendah diri yang dilampiaskan dalam bentuk dominasi kekuasaan. Sebagai komunikator agresif ia mencoba mendominasi orang lain dan sering mengancam serta mengkritik, kelemahan-kelemahan orang lain untuk mendapatkan kekuasaan dimana kelihatan dalam bahasa tubuhnya seperti sifat sombong. Komunikator yang demikian cepat marah dan akan dijauhi oleh orang lain dan dengan demikian kebutuhannya tidak akan terpenuhi dengan cara sehat .
Komunikator yang agresif mencoba membuat orang lain melakukan apa yang mereka inginkan dengan menginduksi rasa bersalah atau menggunakan intimidasi, serta tidak memperhitungkan perasaan orang lain dan sering berbicara keras, sering mengganggu dan kurang mau mendengarkan orang lain

2. Gaya pasif
Berlawanan dengan komunikator agresif adalah komunikator pasif. Komunikator pasif mengekspresikan perasaan dirinya dengan cara minta maaf yang terkadang diabaikan oleh orang lain bahkan mengizinkan orang lain untuk mengambil keuntungan dengan melanggar hak-haknya. Akibatnya terjebak dengan rasa cemas, dan putus asa karena berada di luar kendali hidup. Mungkin membenci orang lain karena kebutuhannya tidak terpenuhi dengan sempurna. Perilakunya cenderung membiarkan orang lain untuk mendominasi, seperti berbicara lembut dengan kontak mata terbatas dan menggunakan bahasa tubuh tunduk. Komunikator pasif mungkin mengalami depresi dan kebingungan. Untuk dapat menjadi komunikator yang lebih kuat dengan menegaskan diri sendiri.
Tipe ini berkomunikasi secara tidak langsung, selalu sepakat, tidak pernah bicara lebih dahulu dan ragu-ragu.
Orang yang memiliki gaya komunikasi pasif kurang percaya diri, membiarkan orang lain membuat keputusan untuk dirinya, mencoba mengambil posisi jadi penengah untuk menghindari konflik.
3. Gaya aserti atau tegas
Komunikator yang tegas akan efektif menyatakan pikiran dan perasaan secara jelas dan terhormat serta tanpa melanggar orang lain, komunikator asertif cenderung memiliki harga diri yang tinggi. Sebagai komunikator yang tegas menggunakan bahasa tubuh yang tenang, kontrol diri dan mendengarkan secara aktif. Hasilnya komunikator asrtif merasa memegang kendali dalam berhubungan dengan orang lain, menerima tanggung jawab, serta tidak mencoba untuk mengendalikan orang lain.
Komunikasi asertif sering dianggap paling efektif dan sehat bentuk komunikasi. Bersikap tegas membantu individu dan meningkatkan percaya diri dan punya harga diri, serta mendapatkan rasa hormat dari orang lain dengan menciptakan hubungan yang jujur untuk mendapatkan kepuasan lebih.
Komunikator asertif mengekspresikan kebutuhan mereka secara jelas.Mereka berusaha untuk menemukan solusi yang saling menguntungkan untuk masalah. Untuk menjadi komunikator asertif berarti bersedia untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan dan sadar akan hak orang lain.
Gaya asertif atau tegas mempunyai tipe yang efektif, dan aktif mendengarkan, sedikit pernyataan, selalu ada pengharapan, menyatakan pengamatan, tidak pernah beri label, atau penilaian, ekspresi diri secara langsung, jujur, dan segera menyatakan perasaan dan keinginan, cek perasaan orang lain.
Gaya komunikasi ini lebih banyak disukai karena tipe orang seperti ini aktif mendengarkan, tegas terhadap pendiriannya, jujur, terbuka, menyukai rasa humor dan guyon.

Komunikasi Konteks-Tinggi vs Komunikasi Konteks Rendah
Menurut Edward T. Hall komunikasi konterks tinggi mengandung pesan yang kebanyakan ada dalam konteks fisik, sehingga makna pesan hanya dapat dipahami dalam konteks pesan tersebut. Dalam budaya konteks tinggi, makna terinternalisasikan pada orang yang bersangkutan, dan pesan nonverbal lebih ditekankan. Kebanyakan masyarakat homogen berbudaya konteks tinggi. Dalam masyarakat demikian, mengetahui suatu kata atau huruf hanya memberi makna sedikit bila kita tidak mengetahui konteks penggunaannya. Oleh karena kebutuhan untuk secara penuh memahami makna konstekstual simbol, Hall berpendapat bahwa komunikasi konteks-tinggi merupakan kekuatan kohesif bersama yang memiliki sejarah yang panjang, lamban berubah dan berfungsi untuk menyatukan kelompok.
Sebaliknya, komunikasi konteks rendah cepat dan mudah berubah, karenanya tidak mengikat kelompok. Oleh karena perbedaan ini, orang-orang dalam budaya konteks-tinggi cenderung lebih curiga terhadap pendatang atau orang asing. Mereka menganggap orang asing sebagai agak aneh, seakan sejenis makhluk dari luar angkasa.
Kemudian dalam buku komunikasi serba ada serba makna terdapat gaya komunikasi langsung dan tidak langsung. Gaya komunikasi langsung atau high context culture adalah mereka yang memiliki high context culture (HCC) cenderung berada dalam posisi homogen dan kolektif, mereka membawa bakat dan budaya tersebut dalam komunikasi sehar-hari. Para anggota masyarakat HCC saling mengetahui dan mengerti satu sama lain, mereka selalu paham akan gaya komunikasi tidak langsung. Mereka kurang membutuhkan kata-kata yang eksplisit untuk menerangkan makna pesan di antara mereka, terutama kata lisan, kebanyakan pesan dipertukarkan dengan simbol nonverbal. Acap kali mereka mengirimkan pesan melalui manipulasi konteks. Masyarakat HCC berbudaya kolektif sehinggaselalu melakukan tugas bersama-sama.
Gaya langsung atau low context menurut buku ini cenderung lebih heterogen dan invidualis. Gaya komunikasi mereka biasanya “langsung”. Karena meeka berada dalam budaya heterogen maka umumnya mereka kurang mengetahui budaya orang lain (nilai, norma, dan kepercayaan), sehingga selalu membuka jarak sosial dengan orang-orang yang berbeda budaya, yaitu HCC. Pertukaran pesan diantara mereka biasa mengunakan kata-kata verbal, jika ada pesan nonverbal maka hanya dimengerti di kalangan sendiri. Gaya hidup mereka sehari-hari tidak selalu tergantung pada orang lain, mereka melakukan apa yang dapat disesuaikan dengan situasi yang mereka sedang hadapi.
Sedangkan menurut penulis, dilihat dari dua penjelasan di atas gaya komunikasi tidak langsung bisa disebut dengan gaya konteks tinggi dimana gaya komunikasi ini digunakan oleh masyarkat homogen dan menggunakan bahasa nonverbal sehingga apabila ada sesuatu hal yang baru mereka mengganggap itu sebagai sesuatu yang aneh. Berbeda dengan gaya komunikasi langsung atau gaya komunikasi konteks rendah, dalam gaya komunikasi ini menggunakan bahasa verbal dan digunakan oleh masyarakat heterogen dan apabila ada sesuatu yang baru mereka tidak menggap itu aneh.

B. Ruang Lingkup Dakwah
1. Pengertian Dakwah
a. Secara Etimologi
Ditinjau dari etimologi atau bahasa, kata dawah berasal dari bahasa Arab, yaitu da’a-yad’u-dakwatan, artinya mengajak, menyeru, memanggil.
Dalam Al-Qur’an, kata dakwah dapat kita jumpai pada beberapa tempat, dengan berbagai macam bentuk dan redaksinya. Dalam beberapa hadis Rasulullah saw pun, sering kita jumpai istilah-istilah yang senada dengan pengertian dakwah.
1) Panggilan untuk Nama
“Hanya milik Allah asmaul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan” (QS. Al-A’raf (7) : 180)
2) Undangan
Untuk arti undangan, dapat kita lihat dalam hadis Nabi saw berikut ini yang artinya :
“Dan barang siapa yang tidak memenuhi undangan, maka ia termasuk orang yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya” (HR. Muslim)

b. Pengertian Dakwah
Definisi dakwah menurut para ahli
1) Menurut Prof. Toha Yahya Omar, M.A
“Mengajak manusia dengan cara bijaksana kepada jalan yang benar sesuai dengan perintah Tuhan, untuk keselamatan dan kebahagiaan mereka di dunia dan akhirat”.
2) Menurut Dr. M. Quraish Shihab
“Dakwah adalah seruan atau ajakan kepada keinsyafan atau usaha mengubah situasi kepada situasi yang lebih baik dan sempurna, baik terhadap pribadi maupun masyarakat. Perwujudan dakwah bukan sekadar usaha peningkatan pemahaman dalam tingkah laku dan pandangan hidup saja, tetapi juga menuju sarana yang lebih luas. Apalagi pada masa sekarang ini, ia harus lebih berperan menuju kepada pelaksanaan ajaran islam secara lebih menyeluruh dalam berbagai aspek”.
3) Menurut Ibnu Taimiyah
“Dakwah merupakan suatu proses usaha untuk mengajak agar orang beriman kepada Allah, percaya dan menaati apa yang telah diberitakan oleh rasul serta mengajak agar dalam menyembah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya”.
Menurut hemat penulis, dakwah merupakan sebuah upaya dan kegiatan baik dalam wujud ucapan maupun perbuatan, yang mengandung ajakan atau seruan kepada yang lain untuk mengetahui, menghayati, dan mengamalkan ajaran-ajaran Islam dalam kehidupan individual maupun bermasyarakat, untuk meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat, dengan menggunakan alat-alat media dan cara-cara tertentu.
2. Tujuan Dakwah
Tujuan dakwah (maqashit al da’wah) agar manusia mematuhi perintah Allah dan RasulNya dalam kehidupan kesaharian sehingga tercipta akhlak yang mulia.
Dengan kata lain tujuan dakwah adalah menyeru umat manusia untuk beribadah kepada Allah yang merupakan kewajiban setiap muslim, namun, pada saat yang sama harus disadari bahwa hasil usaha dakwah bukan berada ditangan kita, tetapi Allahlah yang membinanya, bahkan Nabi saw pun tidak bisa mengajak pamannya Abu Tholib, seperti yang Allah swt firmankan:
“Dia (Musa) berkata: “Itulah (perjanjian) antara aku dan kamu, mana saja dari kedua waktu yang ditentukan itu aku sempurnakan, maka tidak ada tuntutan tambahan atas diriku (lagi). dan Allah adalah saksi atas apa yang kita ucapkan”. (QS. Al-Qashash (28): 28)
Tujuan ini dimaksudkan agar dalam pelaksanan seluruh aktivitas dakwah dapat jelas diketahui ke mana arahnya, ataupun jenis kegiatan apa yang hendak dikerjakan, kepada siapa berdakwah, dengan cara apa, bagaimana, dan sebagainya secara terperinci. Sehingga tidak terjadi overlapping antara juru dakwah yang satu dengan lainnya hanya karena masih umumnya tujuan yang hendak dicapai.
1) Mengajak manusia agar beriman kepada Allah (memeluk agama Islam).
Tujuan ini berdasarkan atas firman Allah SWT :
“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa”. (QS. Al-Baqarah (2) : 21)
Juga firman Allah SWT :\
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam”. (QS. Ali Imran (3) : 19)
2) Mendidik dan mengajar anak-anak agar tidak menyimpang dari fitrahnya.
Dalam Al-Qur’an dan Hadis telah disebutkan bahwa manusia sejak lahir membawa fitrahnya yakni beragama islam (agama tauhid).
Firman Allah :
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (QS. Ar-Rum (30) : 30)
Rasulullah bersabda yang artinya:
“setiap anak yang dilahirkan itu telah membawa fitrah beragama (perasaan percaya kepada Allah), maka kedua orangtualah yang menjadikan ia (anak tersebut) beragama Yahudi, Nasrani, atau Majusi”. (HR. Al-Baihaqi)

a. Media Dakwah
Di antara unsur dakwah ynga sangat pentiang adalah adalah media (al washilah), karena dengan menggunakan media, dakwah akan lebih efektif, seperti media audio visual Televisi
1) Media audio visual
Media audio visual adalah media penyampaian informasi yang dapat menampilkan unsur gambar dan suara secara bersamaan pada saat mengkomunikasikan pesan dan informasi. Adapun yang termasuk dalam media audio visual yaitu, televisi, film atau sinetron, video.

b. Metode Dakwah
Metode Dakwah adalah jalan atau cara untuk mencapai tujuan dakwah yang dilaksanakan secara efektif dan efesien.
1) Metode Ceramah
2) Metode Tanya Jawab
3) Metode Diskusi
4) Metode Propaganda
5) Metode Keteladanan
6) Metode Drama
7) Metode Silaturahim (Home Visit)

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Obyek penelitian
Obyek penelitian ini adalah program siaran Mamah dan Aa. Penentuan obyek penelitian ini berdasarkan pertimbangan mengenai faktor-faktor apa saja yang menjadikan siaran Mamah dan Aa disukai oleh penonton hingga eksis sampai sekarang.
B. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan mengamati secara langsung melelui Siaran Televisi Indosian selama 3 (tiga bulan) tahun 2013
C. Metodologi Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif kualitatif dengan analisis berdasarkan teori Gaya Komunikasi (commucation Style) melalui pengamatan penulis terhadap siaran dakwah Mama Dedeh dalam prigam ”Mama danAa” di Indosiari. Analisis isi berupaya mengungkap berbagai informasi dibalik data dan bahasa yang disajikan di media dengan focus penggunaan bahasa verbal dan non verbal.

D. Pengumpulan Data
a. Observasi
Observasi yaitu melakukan pengamatan langsung untuk memperoleh data yang diperlukan . Observasi dilakukan untuk mendapatkan data mengenai faktor-faktor yang mendukung siaran program Mamah dan Aa sehingga disukai oleh pemirsa hingga bisa eksis dimana faktor itu meliputi: bahasa verbal dan non verbal sender (komunikator), message (pesan), format acara, dan receiver (penonton).
b. Dokumentasi
Dokumentasi yaitu pengambilan data yang diperoleh melalui dokumen-dokumen . Pengumpulan data ini dilakukan berdasarkan dokumen, literatur buku, catatatan, serta fasilitas lain yang berhubungan dengan penelitian ini.
c. Teknik Analisis Data
Dari data-data yang dikumpulkan, kemudian penulis analisis, dan hasil analisis kemudiaan hal-hal yang terasa kurang pas, peneliti kritisi. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif analisis yaitu pelaporan data dengan menerangkan, memberi gambaran dan mengklasifikasikan serta menginterprestasikan data yang terkumpul apa adanya, kemudian disimpulkan.

BAB IV
Hasil Penelitian

Tayangan program “Hati ke Hati bersama Mamah Dedeh” sebuah talk show yang berisi ajaran nilai-nilai dakwah yang berpedoman kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Acara ini juga berfungsi sebagai media curhatan dan menganalisis pengetahuan terhadap persoalan Agama Islam yang dibahas secara interaktif dan menyeluruh. Mamah Dedeh yang memiliki keahlian dalam bidang ilmu keagamaan yang sekaligus berperan sebagai narasumber, dalam acara ini Mamah dedeh juga didampingi oleh Abdel sebagai host atau pembawa acara. Program “Hati ke Hati bersama Mamah Dedeh” ditayangkan setiap hari pagi pukul 05.00-06.00 WIB di INDOSIAR.
Komunikasi Konteks-Tinggi vs Komunikasi Konteks Rendah
Menurut Edward T. Hall komunikasi konteks tinggi mengandung pesan yang kebanyakan ada dalam konteks fisik, sehingga makna pesan hanya dapat dipahami dalam konteks pesan tersebut. Dalam budaya konteks tinggi, makna terinternalisasikan pada orang yang bersangkutan, dan pesan nonverbal lebih ditekankan. Kebanyakan masyarakat homogen berbudaya konteks tinggi. Dalam masyarakat demikian, mengetahui suatu kata atau huruf hanya memberi makna sedikit bila kita tidak mengetahui konteks penggunaannya. Oleh karena kebutuhan untuk secara penuh memahami makna konstekstual simbol, Hall berpendapat bahwa komunikasi konteks-tinggi merupakan kekuatan kohesif bersama yang memiliki sejarah yang panjang, lamban berubah dan berfungsi untuk menyatukan kelompok.
Sebaliknya, komunikasi konteks rendah cepat dan mudah berubah, karenanya tidak mengikat kelompok. Oleh karena perbedaan ini, orang-orang dalam budaya konteks-tinggi cenderung lebih curiga terhadap pendatang atau orang asing. Mereka menganggap orang asing sebagai agak aneh, seakan sejenis makhluk dari luar angkasa.
Kemudian dalam buku komunikasi serba ada serba makna terdapat gaya komunikasi langsung dan tidak langsung. Gaya komunikasi langsung atau high context culture adalah mereka yang memiliki high context culture (HCC) cenderung berada dalam posisi homogen dan kolektif, mereka membawa bakat dan budaya tersebut dalam komunikasi sehar-hari. Para anggota masyarakat HCC saling mengetahui dan mengerti satu sama lain, mereka selalu paham akan gaya komunikasi tidak langsung. Mereka kurang membutuhkan kata-kata yang eksplisit untuk menerangkan makna pesan di antara mereka, terutama kata lisan, kebanyakan pesan dipertukarkan dengan simbol nonverbal. Acap kali mereka mengirimkan pesan melalui manipulasi konteks. Masyarakat HCC berbudaya kolektif sehinggaselalu melakukan tugas bersama-sama.
Gaya langsung atau low context menurut buku ini cenderung lebih heterogen dan invidualis. Gaya komunikasi mereka biasanya “langsung”. Karena meeka berada dalam budaya heterogen maka umumnya mereka kurang mengetahui budaya orang lain (nilai, norma, dan kepercayaan), sehingga selalu membuka jarak sosial dengan orang-orang yang berbeda budaya, yaitu HCC. Pertukaran pesan diantara mereka biasa mengunakan kata-kata verbal, jika ada pesan nonverbal maka hanya dimengerti di kalangan sendiri. Gaya hidup mereka sehari-hari tidak selalu tergantung pada orang lain, mereka melakukan apa yang dapat disesuaikan dengan situasi yang mereka sedang hadapi.
Sedangkan menurut penulis, dilihat dari dua penjelasan di atas gaya komunikasi tidak langsung bisa disebut dengan gaya konteks tinggi dimana gaya komunikasi ini digunakan oleh masyarkat homogen dan menggunakan bahasa nonverbal sehingga apabila ada sesuatu hal yang baru mereka mengganggap itu sebagai sesuatu yang aneh. Berbeda dengan gaya komunikasi langsung atau gaya komunikasi konteks rendah, dalam gaya komunikasi ini menggunakan bahasa verbal dan digunakan oleh masyarakat heterogen dan apabila ada sesuatu yang baru mereka tidak menggap itu aneh.
Model komunikasi dapat dipetakan menjadi dua hal, yaitu komunikasi konteks tinggi dan komunikasi konteks rendah. Komunikasi konteks tinggi adalah komunikasi yang bersifat implisit dan ambigu, yang menuntut penerima pesan agar menafsirkannya sendiri. Komunikasi konteks tinggi bersifat tidak langsung, tidak apa adanya. Ciri komunikasi model ini yaitu kalau mau mengutarakan sesuatu pesan cenderung dengan basa-basi terlebih dahulu, bahkan sering menggunakan kata-kata kiasan yang sekiranya bisa menyentuh, dengan tidak menyebutkan pesan secara langsung.
Hal ini akan dikaji dari sudut teori gaya komunikasi (communication style) dakwah Mama Dedeh dalam program “Hati ke Hati bersama Mamah Dedeh”. Dalam komunikasi dakwahnya apakah gaya komunikasi “high context atau low context”

Pembahasan :

1. Pada episode “Hati ke Hati bersama Mamah Dedeh” yang berjudul “Membuka Pintu Rezeki” yang ditayangkan di INDOSIAR pada pukul 05.00-06.00 WIB. Narasumber menggunakan teori komunikasi Aserti atau Tegas (Assertive), narasumber dengan efektif menyatakan pikiran dan perasaan secara jelas dan terhormat serta tanpa melanggar hak orang lain. Serta menggunakan bahasa tubuh yang tenang, kontrol diri dan mendengarkan secara aktif. Hasilnya kominakasi asertif merasa memegang kendali dalam berhubungan dengan orang lain, menerima tanggung jawab, serta mencoba untuk mengendalikan orang lain dan berpedoma kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah di setiap ceramahnya, juga tentang “Membuka Pintu Rezeki”. Mamah Dedeh mengatakan “Allah SWT sudah menyiapkan rezeki semua makhluknya, seperti manusia, binatang, pohon-pohon serta lainnya. Namun yang namanya rezeki bukan ditunggu (seandainya, jikalau, atau andaikata). Bukan itu, tapi rezeki itu harus dicari”.
2. Pada episode “Hati ke Hati bersama Mamah Dedeh” yang berjudul “Misteri Dua Dunia” yang ditayangkan di INDOSIAR pada pukul 05.00-06.00 WIB. Narasumber menggunakan teori komunikasi Aserti atau Tegas (Assertive), pada awal mulai acara host seperti biasa menyapa penonton dengan selogan khas program “Hati ke Hati bersama Mamah Dedeh”. Sebelum mulai perbincangan crew memasukan seseorang untuk mendeskripsikan dari tema diatas. Dia mencontohkan dan menjelaskan apa yang dipakai yang dimaksudkan untuk mencegah atau bisa terhindar dari marabahaya, lalu Mamah Dedeh langsung memotong pembicaraan dan menjelaskan tentang Dunia Ghaib. Dunia Ghaib dari dahulu sudah diselidiki kebenarannya, namun belum mendapatkan jawabannya. Namun setelah Allah SWT mengangkat Muhammad sebagai Rosulnya lalu diturunkan Alquran dalam salah satu surat-NYA Allah SWT menyatakan “Tuhan yang mengetahui yang ghaib, maka tidak memperlihatka kepada seorangpun kecuali kepada rosul yang diridhoinya, sesungguhnya dia mengadakan penjaga-penjaga serta malaikat-malaikat dimuka dan dibelakang mereka”. Secara otomatis audience menyimak dengan khusuk karena Mamah Dedeh bicara dengan gaya yang tegas dan menggunakan bahasa tubuh yang tenang serta kontrol diri (Gaya asertiv atau tegas).
3. Pada tayangan ketiga, lanjutan dari tayagan kedua yaitu tentang “Misteri Dua Dunia” host memberikan kesempatan kepada audience untuk berinteraksi secara langsung, Mamah Dedeh menyambutnya dengan menghampirinya lalu bersalaman dengan ramah dan sedikit guyonan karena kemiripan nama dengan Ibu Dedeh Mahyudi (Ibu yang bertanya). Ibu Dedeh Mahyudi bertanya apakah belajar berkomunikasi dengan makhluk ghaib itu diperbolehkan? Mamah menjawab “Boleh, selama caraya hanya untuk menjaga diri dan untuk mendekatkan dengan Allah SWT dan memantapkan iman kita kepada Allah SWT”. Dalam episode lanjutan ini Mamah Dedeh menggunakan teori komunikasi Aserti atau Tegas (Assertive), karena dengan secara jelas dan terhormat menyapa dan mendengarkan secara aktif.
4. Episode ke empat masih fokus menyimak topik “Misteri Dua Dunia” yang masih di siarkan INDOSIAR. Karena dalam episode ini Mamah dedeh banyak berbicara tentang Dunia Ghaib dan Alam Dunia serta orang-orang yang bisa melihat dan fungsi sbenarnya ilmu tersebut. Banyak yang menyalah gunakan ilmu itu karena tidak didasari kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dengan memberikan contoh nyata didalam kehidupan sehari-hari. Mamah Dedeh Berkata “Yang namanya Jin diciptakan sebelum adanya Nabi Adam”.
5. Episode ke lima “Hati ke Hati bersama Mamah Dedeh” menampilkn video penampakan-penampakan UFO yang banyak orang bilang makhluk ghaib. Dalam surat Al-An’am Ayat 59 Allah berfirman “yang ada di dalam alam ghaib itu seluruhnya rahasianya Allah”. Apakah makhluk-makhluk ghaib itu benar-benar ada? Mamah dedeh memberikan contoh lain dalam surat Annamal ayat 65. Allah berfirman “Katakanlah wahai Muhammad kepada manusia yang ghaib dilangit dan yang ghaib dibumi tidak ada yang tahu keculi Allah SWT”, dan dipastikan dengan dua ayat tadi itu ada. Maka yakinkan pada diri kita kunci-kunci keajaiban ada pada Allah.
6. Pada episode lanjutan “Hati ke Hati bersama Mamah Dedeh” yang berjudul “Misteri Dua Dunia” yang ditayangkan di INDOSIAR pada pukul 05.00-06.00 WIB. Episode ini lebih banyak session tanya jawab. Ada yang bertanya banyak orang yang mengaku-ngaku melihat benda-benda ghaib, bagaimana menurut Mamah? Mamah menjawab “Tidak masalah, artinya disitu Allah sengaja menunjukan Aku maha agungm, Aku maha kuasa dengan qudrat irodat-NYA dan itu sebagai pembuktian dari Allah bahwa kekuatannya melebihi isi bumi”.

7. Pada tema ceramah Fara’id (waris) Mamah Dedeh menggunakan hukum komunikasi REACH, dimana mamah dedeh menghargai para audience dengan baik. Hal itu terlihat dari Mamah Dedeh menyampaikan ceramah dengan jelas dan dapat dimengerti (audible, clarity). Hal ini terlihat dari mamah dedeh menjelaskan tema tersebut seperti: timbulnya waris mewaris ada empat faktor, yang pertama kekeluargaan, yang kedua perkawinan, yang ketiga karena walla berdekatan, dan yang ke empat karena hubungan islam. Allah berfirman melalui syrat an-nisa ayat 7, bagi laki-laki mendapatkan hak warisan bagian apa yang ditinggalkan oleh orang tua dan kerabatnya.
Pada saat tanya jawab ada audience yang bertanya sejak papa saya meninggal dia mewariskan sebuah rumah dan meninggalkan 1 istri, empat anak laki-laki dan 1 anak perempuan. Masalahnya rumah yang diwariskan tidak boleh dijual oleh keluarga kaya, kebetulan saya mempunyai sebuah rumah, kemudian rumah saya dijual untuk dibagikan kepada empat sodara laki-laki saya. Dan saya tinggal dirumah yang sudah diwariskan. Dan pertanyaannya adalah jika rumah saya dijual untuk sodara laki-laki maka hak waris itu hilang atau tidak, apakah dengan cara itu pembagian warisan sesuai dengan hukum islam atau tidak? (respect, empati, humble)
Gaya komunikasi yang dipakai oleh Mamah Dedeh adalah Gaya asertif atau tegas, dimana Mamah Dedeh menyatakan pikiran dan perasaan secara jelas dan terhormat serta tanpa melanggar orang lain. Gaya asertif mempunyai tipe yang Efektif dan aktif mendengarkan, sedikit pernyataan dan mengekspresikannya secara langsung. Hal ini terlihat pada saat ada seorang audience yang bertanya.
Mamah Dedeh langsung menjawab pertanyaan itu dengan suara lantang dan menjawabnya dengan jelas kalau rumah itu dijual hak waris itu tetap karena rumah itu adalah warisan dari ayah kamu, ibunya 1/8, anak laki – laki 2/9, dan anak perempuan 1/8 artinya kamu masih punya hak dalam warisan itu dan kalau harus tuker guling harga yang ditukar juga harus sama dan tidak boleh tidak seimbang”. Mamah dedeh menjawab semua pertanyaan dengan cara Mamah Dedeh menjalin dialog dengan cara kekeluargaan yaitu semua audience dirangkul dan saling curhat. Maka dari itu ada slogan bagi mama dedeh yaitu Mamaaaaaahhhhhh? Curhat dongggggggggg.
Mamah Dedeh menggunakan komunikasi konteks rendah dimana mamah dedeh menggunakan bahasa verbal dalam menyampaikan ceramahnya. Gaya komunikasinya juga digunakan secara langsung.

8. Pada tema “Banyak Bicara” Mamah Dedeh juga menggunakan hukum komunikasi REACH. Yaitu respect, empathy, audible, clarity, humble.
Gaya komunikasi yang dipakai adalah asertif dimana ceramah yang disampaikan secara jelas dan paling dianggap efektif dan sehat dalam bentuk komunikasi. Mamah dedeh bersikap tegas yang membantu dirinya sendiri untuk menambah rasa percaya dirinya.
Konteks yang digunakan dalam ceramah kali ini adalah konteks rendah dimana bahasa yang digunakan oleh mamah dedeh verbal dan langsung dinyatakan kepada audience. Seperti contoh :
ada beberapa hal yang perlu dilakukan pada saat berbicara, yang pertama Semua pembicaraan harus kebaikan, dalam hadits nabi Sholalllohu ‘Alaihi Wasalam disebutkan:
“Barangsiapa yang beriman pada ALLAH dan hari akhir maka hendaklah berkata baik atau lebih baik diam.”
Kedua, Berbicara harus jelas dan benar, sebagaimana dalam hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha:
“Bahwasanya perkataan Rasulullah Sholalllohu ‘Alaihi Wasalam itu selalu jelas sehingga bisa difahami oleh semua yang mendengar.”
Ketiga, Seimbang dan menjauhi bertele-tele, berdasarkan sabda nabi Sholalllohu ‘Alaihi Wasalam:
“Sesungguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh dariku nanti di hari Kiamat ialah orang yang banyak omong dan berlagak dalam berbicara.” Maka dikatakan: Wahai rasulullah kami telah mengetahui arti ats-tsartsarun dan mutasyaddiqun, lalu apa makna al-mutafayhiqun? Maka jawab nabi Sholalllohu ‘Alaihi Wasalam: “Orang-orang yang sombong.”

9. Dalam tema “Menelantarkan Anak” Mamah Dedeh menggunakan hukum komunikasi REACH. Gaya yang digunakan juga gaya Asertif karena terlihat dari penyampaian ceramah yang jelas dan tidak mencoba untuk mengendalikan orang lain karena dengan sendirinya audience akan memperhatikan betul apa yang di jelaskan oleh Mamah Dedeh. Konteks yang digunakan juga konteks rendah.
Mamah Dedeh jarang sekali menggunakan bahasa tubuh hanya saja tangannya yang ikut berbicara itu terlihat dari tangannya yang naik turun pada saat berceramah.
Kita berharap bahwa penelantaran anak ini hanya karena ketidaktahuan sang orang tua kemana lagi mencari pemecahan persoalan ekonomi keluarganya, bukan karena sudah hilang rasa kasih sayang kepada anak-anaknya. Karena jika karena rasa kasih sayang yang telah sirna maka persoalan akan menjadi lebih rumit.
Islam melarang penelantaran anak-anak. Jangankan menelantarkan manusia, menelantarkan kucing dengan mengurung dan tidak memberi makan dan minum saja sudah dilarang. Rasulullah saw bersabda:
“Dakhalatimra`atun naara fii Hirratin.”
Artinya: “Seorang wanita masuk Neraka karena seekor kucing.”

10. Hukum komunikasi yang digunakan pada thema “Pernikahan dalam Islam” adalah REACH, dimana ke lima factor yaitu respect, empaty, audible, clarity, dan humble itu digunakan dalam tema cema ceramah kali ini. Gaya komunikasi yang dipakai asertif yaitu dimana mamah dedeh menggunakan bahasa tubuh yang tenang dan control diri dan mendengarkan secara aktif. Kontek yang digunakan adalah low konteks atau konteks rendah dimana mamah dedeh menyatakan bahasa secara verbal dan langsung ke sasasaran atau audience.
Sebelum pernikahan berlangsung dalam agama Islam tidak mengenal istilah pacaran akan tetapi dikenal dengan nama “khitbah”. Khitbah atau peminangan adalah penyampaian maksud atau permintaan dari seorang pria terhadap seorang wanita untuk dijadikan istrinya baik secara langsung oleh si peminang atau oleh orang lain yang mewakilinya. Yang diperbolehkan selama khitbah, seorang pria hanya boleh melihat muka dan telapak tangan. Wanita yang dipinang berhak menerima pinangan itu dan berhak pula menolaknya. Apabila pinangan diterima, berarti antara yang dipinang dengan yang meminang telah terjadi ikatan janji untuk melakukan pernikahan. Semenjak diterimanya pinangan sampai dengan berlangsungnya pernikahan disebut dengan masa pertunangan. Pada masa pertungan ini biasanya seorang peminang atau calon suami memberikan suatu barang kepada yang dipinang (calon istri) sebagai tanda ikatan cinta yang dalam adat istilah Jawa disebut dengan peningset.
Hal yang perlu disadari oleh pihak-pihak yang bertunangan adalah selama masa pertunangan, mereka tidak boleh bergaul sebagaimana suami istri karena mereka belum syah dan belum terikat oleh tali pernikahan. Larangan-larang agama yang berlaku dalam hubungan pria dan wanita yang bukan muhrim berlaku pula bagi mereka yang berada dalam masa pertunangan.
Adapun wanita-wanita yang haram dipinang dibagi menjadi 2 kelolmpok yaitu :
– Yang haram dipinang dengan cara sindiran dan terus terang adalah wanita yang termasuk muhrim, wanita yang masih bersuami,wanita yang berada dalam masa iddah talak roj’i dan wanita yang sudah bertunangan.
– Yang haram dipinang dengan cara terus terang, tetapi dengan cara sindiran adalah wanita yang berada dalam iddah wafat dan wanita yang dalam iddah talak bain (talak tiga).

BAB V
Kesimpulan dan Saran

A. Kesimpulan
1. Hampir seluruh ceramah Mamah Dedeh dalam program “Mama dan Aa” yang disiarkan melalui stasiun Televisi Indosiar menggunakan gaya komunikasi (communications style) dengan gaya komnikasi asertif dengan type efektif dan aktif.
2. Ditinjau dari sudut komunikasi “high context atau low context” Mama Dedeh lebih banyak berkomunikasi secara low contex atau kontek rendah . Mama Dedeh banyak bicara secara lansung terutama dalam berkomunikasi dengan audience di studio yang rata-rata masyarakat berpendidkan menengah kebawah. Komunikasi lansung dengan kontek rendah akan lebih cepat dipahami oleh audiens.
3. Disamping ditinjau dari sudut gaya komunikasi lain Mamah Dedeh menggunakan hukum komunikasi REAC (Respect, Emphaty, Clariy, dan Humle), Mama Dedeh

B. Saran
Mamah Dedeh dalam ceramah dakwah di Stasiun Indosiar lebih banyak menggunakan gaya komunikasi kontek rendah denga pertimbangan masyarakat audiensnya terutama yang hadir di Studio adalah berpendidikan menengah kebawah, akan tetapi audiens di luar Studio banyak juga yang berpendidikan menengah ke atas maka disarankan sesekali menggunakan gaya komunikasi High Context atau kontek tinggi.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’an dan terjemah (Bandung: Al-Jumanatul ‘Ali, 2005),

Hafid Cangara, 2008. Pengantar Ilmu Komunikasi Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Ciptono Soetybudi, Pengantar Teknik Boardcasting Televisi. (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2005), h.1

Morisan. Jurnalistik Televisi Mutakhir. (Jakarta: kencana, 2008), h.3

http://hiburan.kompasiana.com/gosip/2010/02/23/racun-racun-dari-televisi-kita/

Mulyana, Deddy. Komunikasi Lintas Budaya Suatu Pendekatan Lintas Budaya. Rosdakarya. Bandung: 2005 hal 129
Liliweri, Alo. Komunikasi Serba Ada Serba Makna. Kencana. 2011 hal 209
Lastry. P, SST, Komunikasi Efektif
Ruth Sherm President, Ruth Sherman Associates, LLC, Greenwich, CT, 1/99 http://www.onlinewbc.gov/docs/manage/comm_style.html
Mulyana Dedy, Komunikasi Lintas Budaya, satu pendekatan Lintas budaya, Rosda Karya Bandung; 2005

http://manajemenkomunikasi.blogspot.com/2011/04/gaya-komunikasi.html diunggah 10 mei 2013 pukul 14.00 WIB

Liliweri, Alo. Komunikasi Serba Ada Serba Makna. Kencana. 2011 hal 318

http://manajemenkomunikasi.blogspot.com/2011/04/gaya-komunikasi.html diunggah 10 mei 2013 pukul 14.00 WIB

Mulyana, Deddy. Komunikasi Lintas Budaya Suatu Pendekatan Lintas Budaya. Rosdakarya. Bandung: 2005 hal 130

Fathul Bahri An-Nabiry. Meniti Jalan Dakwah Bekal Perjuangan Para Da’i, (Jakarta: Amzah, 2008). Ed.1.Cet.1.h.19

Toha Yahya Omar, Ilmu Dakwah, (Jakarta: Wijaya, 1979),

M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an, Fungsi dan Peran Wahyu Dalam Kehidupan Masyarakat (Bandung: Mizan, 2001), cet.ke-22, h.194

Ibnu Taimiyah, Majmu Al-Fatawa, Juz 15, (Riyadh: Mathabi Ar-Riyadh, 1985), h.185

Abdul Sattar, Peranan Televisi Republik Indonesia (TVRI) dalam Dakwah Islam di Indonesia (Dalam Jurnal Kajian Dakwah dan Komunikasi, Volume XV, No 2 Desember 2012)

Samsul Munir Amin, Ilmu Dakwah, (Jakarta: Amzah, 2009), h.62-64

Abdul Sattar, Peranan Televisi Republik Indonesia (TVRI) dalam Dakwah Islam di Indonesia (Dalam Jurnal Kajian Dakwah dan Komunikasi, Volume XV, No 2 Desember 2012)

Masdar Helmy, Dakwah dalam Alam Pembangunan, Jilid 1, (Semarang: CV. Toha Putra, 1973), h.21

Winarno Surahmad, Dasar-dasar Teknik Penelitian, (Bandung: CV, Tarsita, 1989), h.162

Husaini Usman, Metodologi Penelitian Social (Jakarta: Bumi Aksara, 2003), cet .ke-4,h.73

Tentang Drs. Zamris Habib, M.Si

Drs. Zamris Habib, M.Si, saat ini mengajar Ilmu Komunikasi, Media dan Teknologi Pendidikan pada UIN (Universitas Islam Negeri) Syarif Hidayatullah Jakarta dan UMJ (Universitas Muhammadiyah Jakarta) sejak tahun 1995. Dari tahun 1977 bekerja di Pustekkom (Pusat Teknologi Komunikasi dan Informasi) Departemen Pendidkan Nasional sampai pensiun pada awal tahun 2006. Selama di Pustekkom pernah menjabat Kabid Analisa dan Evaluasi (1998), dan Kabid Pengembangan Model Pembelajaran (2001) Sebelumnya pada tahun 1992 pernah menjabat koordinator Program Siaran Radio Pendidikan (SRP) untuk penataran guru SD dan program SRP untuk penyetaraan D2 guru SD. Pria yang lahir 8 Januari 1950 di Situjuh Payakumbuh adalah lulusan program Magister Manajemen Komunikasi Universitas Indonesia ini beberapa kali mengikuti training di bidang pendidikan jarak jauh/terbuka dan komunikasi di University Western of Australia Perth, University of Technology Sidney, Warner Bros (WB) Film Production di Gold Coast Australia; training tetang technology applications for education di Innotec Center, Manila Philipina, dan NHK Studio, Ashahi Shimbun, University of Tokyo, Jepang. Aktif mengikuti seminar nasional/internasional teknologi pendidikan, distance/open education, e-learning, dll. Sewaktu mahasiswa menulis di berbagai media, terakhir redaksi Jurnal TEKNODIK dan Buletin FORUM KOMUNIKASI Pustekkom sd. 2005. Anak Minang yang bergelar Datuk Paduko Rajo ini mempunyai motto hidupnya “Bahwa dibalik kesulitan itu terdapat kemudahan, dan dibalik kesulitan yang sama terdapat kemudahan2 yang lain, dan setelah selesai mengerjakan sesuatu maka mulai mengerjakan yang lain serta Kepada Allah selalu berharap”. Motto ini terinspirasi dari Al Qur’an surat Al Insyirah. Pria yang hoby membaca buku-buku filsafat, politik, pendidikan, komunikasi dan agama ini beristerikan Lely dan telah mempunyai 4 orang anak (Liza, Alfi, Putri dan Ganto), sekarang kakek yang sudah mempunyai tiga orang cucu (Zidan,Virza dan Najwa) ini tinggal di Perumahan Depdiknas Blok A No 5, Cipayung Ciputat Tangerang, selain mengisi waktu dengan mengajar dan membaca juga disibukan dengan momong tiga orang cucu yang sedang lucu2nya


Top