Bank Informasi

Twitter dan facebook

Buku tamu

share samping

Video

MOST RECENT

Yahoo chat

Album

    • Latest Stories

      What is new?

    • Comments

      What They says?

    ,

    1."Aku adalah simpanan tersembunyi, karena itu Aku rindu untuk dikenal. Maka Aku ciptakan makhluk, sehingga melalui-Ku mereka mengenal-Ku" (Hadis Qudsi)

    2. Hidup dan kehidupan adalah suatu proses pejalanan menuju kesempurnaan, walaupun disadari bahwa kita tidak akan sampai pada titik kesempurnaan itu di dunia ini. Ada suatu prinsip yg mendorong manusia untuk menjalani tsb bahwa kesempurnaan itu akan didapat di akhirat nanti melalui maqam2 spritual yang terjal.

    3.Perjalanan kehidupan tidak selalu sesuai dengan dengan yang kita rencana (takdir) akan tetapi masa depan harus tetap direncanakan secara rasional dan sematang mungkin berdasarkan hasil evaluasi (muhasabah) masa lalu. "Wal tanzur nafsun ma qoddamad lighod"

    4.Peribahasa Minang mengatakan "titian biaso lapuak, janji biaso mungkia" maksudnya dalam kenyataan sehari-hari memang demikian yang terjadi. Manusia banyak janji tapi tidak ditepati. Ingat janji-janji politisi waktu kampanye mereka lupa setelah berkuasa. "Apabila berkata dia dusta, apabila berjanji dia mangkir dan apabila dipercaya dia khianat" Itulah ciri2 orang munafik. (Hadis)

    5.Jika Anda ingin bicara dg Allah swt maka shalatlah dua raka'at.
    Jika Anda ingin Allah berbicara dengan Anda maka bacalah AlQur'an

    6. Jangan banyak mengeluh sebab akan mendatangkan putus asa.
    Perbanyaklah bersyukur sebab akan mendatangkan kebahagiaan

    7. Jangan banyak mengeluh sebab akan mendatangkan putus asa.
    Perbanyaklah bersyukur sebab akan mendatangkan kebahagiaan

    8. Kalau Tuhannya sama, Qurannya sama dan Rasulnya juga sama. Kalau ada perbedaan apalagi kalau bukan perbedaan penafsiran. Jangan mengklaim kebenaran dg menggunakan bahasa Syetan : "Ana khairu minhu" "(kelompok) saya lebih baik dari (kelompok) mu" [AlQuran]
    Catatan : Janganlah perbedaan2 tsb menjadikan kita bermusuhan apalagi saling mengkafirkan. "Perbedaan pendapat para ahli (ulama) adalah rahmat" [Hadis]

    9.Yang benar itu banyak, hakikat kebenaran hanya SATU. Yang bisa diraih oleh manusia hanya serpihan2 dari hakikat kebenaran yg Maha Mutlak. Hal tsb. sering kali menimbulkan perbedaan2 pendapat secara tidak disadari dan bisa membawa kepada permusuhan di kalangan ummat.

    10.Ibarat orang bersilancar ia sengaja menghadang gelombang, melawan gulungan ombak yang tinggi dengan bermodalkan keterampilan dan selembar papan. Demikian juga seorang sufi dengan ridha dan rasa cinta kepada Allah mampu dan menikmati segala ujian dan cobaan dengan ikhlas
    Catatan : Kalau orang awam takut ombak demikian juga umumnya manusia apabila ditimpa cobaan dan musibah mudah mengeluh

    Menjawab pertanyaan ADK tentang takdir :
    Takdir adalah rencana dan ketentuan Tuhan bagi makhluknya, takdir dari segi bahasa adalah ketentuan. Ada ketentuan (takdir) itu dimana manusia tidak bisa memilih seperti siapa orang tuanya, tetapi dalam batas tertentu kita diberi pilihan, maka munusia bisa pindah dari suatu takdir kepada takdir yang lain, misalnya kalau kita bermain api terbakar dan kalau bermain air basah. Sebahagian proses kehidupan juga sebuah ikhtiar (pilihan), dan ada juga dalam kehidupan ini walau kita sudah memilih sebuah takdir tetapi Tuhan kadang kala memberikan takdir di luar pilihan kita. Kenapa ? Sebab Tuhan sudah mempertimbangkan dengan matang bahwa yg kita pilih tidak baik untuk manusia maka Tuhan memberikan diluar pilihan kita, seperti kita memberikan pilihan kepada anak kecil. Wallahu a’lam bisshawab

    ,

    Media Komunikasi
    Media massa baik cetak maupun elektronik mempunyai ciri masing-masing. Media komunikasi massa mampu meniadakan hambatan waktu dan tempat, seperti yang dinyatakan oleh Marshall Mc Luhan dalam Global Village, bahwa dunia semakin kecil dibanding sebelumnya disebabkan kehadiran media komunikasi massa, informasi tentang suatu negara akan dapat diketahui pada waktu yang relatif singkat di belahan dunia yang lain (Barker, 1993 : 385). Jadi peranan media massa seperti radio dan tv akan semakin menentukan dalam pembangunan dunia yang semakin global.
    Sebelum masuk lebih dalam tentang media massa lebih dahulu dibahas tentang konsep-konsep komunikasi dan hubungannya dengan media. Penggunaan media komunikasi massa seperti radio dan tv, apapun termasuk yang untuk tujuan pendidikan tidak terlepas dari prinsip komunikasi. Karena radio dan tv adalah sarana komunikasi dalam menyampaikan informasi atau pesan dari suatu sumber kepada pendengarnya. Sebelum membicarakan radio dan tv sebagai media komunikasi massa, lebih dahulu perlu mengkaji model-model komunikasi dari Harold D. Lasswell, model sirkuler dari Osgood dan Schramn, Gerbner, Riley & Riley, Shanon & Weaver serta de Fleur, Denis Mc Quail dan Sven Windahl, 1981 (dalam Sendjaja, 1993) telah menginventarisasi dan menjelaskan 28 model komunikasi. Paling tidak, ada dua puluh delapan model komunikasi yang dibagi dalam lima kelompok. Pertama disebut model-model dasar. Kelompok kedua menyangkut pengaruh personal, penyebaran dan dampak komunikasi massa terhadap perorangan. Kelompok ketiga meliputi model-model tentang efek komunikasi massa terhadap kebudayaan dan masyarakat. Kelompok keempat berisikan model-model yang memusatkan perhatian pada khalayak. Kelompok yang terakhir, kelima mencakup model-model komunikasi tentang sistem, produksi, seleksi dan alur media massa.
    Pada tulisan ini hanya akan dibahas model Harold D. Lasswell. Menurut Lasswell komunikasi pada dasarnya menjelaskan “siapa?”, “mengatakan apa?”, “dengan saluran?”, “apa?”, “kepada siapa?” dan “dengan akibat atau hasil apa?” (“Who?, Say what?, In wich channel?, To whom?, with what effect?”). Dengan demikian komunikasi merupakan suatu kegiatan atau proses pembentukan penyampaian, penerimaan dan pengolahan proses yang terjadi dalam diri seseorang dan/atau diantara dua orang atau lebih dengan tujuan tertentu.
    Komunikasi sebagai suatu proses terdiri dari beberapa komponen, yaitu :
    1. Source (komunikator), yaitu seseorang atau kelompok orang atau suatu lembaga (organisasi) yang mengambil inisiatif dalam membentuk dan mengirim pesan (encoding).
    2. Message, adalah pesan berupa lambang atau kata-kata tertulis ataupun lisan, gambar, angka, gestur dan lain-lain.
    3. Channel (saluran), ialah sesuatu yang dipakai sebagai alat atau media penyampai pesan, misalnya radio, televisi, surat kabar dan majalah, atau dalam konteks antar pribadi secara tatap muka.
    4. Receiver (penerima), yaitu seseorang atau kelompok orang atau organisasi/institusi/lembaga yang menjadi sasaran penerima pesan.
    5. Effect, akibat/dampak atau hasil yang terjadi pada pihak penerima/komunikan (target sasaran/target audience).
    6. Feedback, yaitu umpan balik berupa tanggapan balik dari penerima atas pesan yang diterimanya.
    Dominick (1990 : 5) menambahkan tiga lagi elemen proses komunikasi sehingga menjadi delapan elemen, yaitu sumber, proses enkoding, pesan, saluran, proses dekoding, penerima, umpan balik, dan nois. Enkoding ialah proses perubahan dari bahasa si pengirim ke bahasa media, dan dekodin adalah proses perubahan dari bahasa media ke bahasa si penerima dan nois adalah berupa gangguan yang terjadi sewaktu komunikasi berlangsung. Menurut Wilbur Schramn (1965), suatu proses atau kegiatan komunikasi akan berjalan apabila terdapat overlapping of interest (pautan kepentingan) diantara sumber dan penerima. Untuk terjadinya overlapping of interest tersebut dituntut adanya persamaan (dalam tingkatan yang relatif) dalam hal “kerangka referensi” (frame of reference) dari kedua pelaku komunikasi, dalam hal ini adalah antara sumber dan penerima pesan.
    Selanjutnya untuk mengetahui karakteristik dari media, perlu dikaji lebih dahulu suatu konsep yang disebut sifat media (media attributes). Levie (1975 : 35) dalam Sudirdjo (1995) menjelaskan tentang atribut media sebagai berikut :
    “A media attribute is a characteristic of a media presentation which define the kinds of information that may be provided by the presentation. A media attribute does not specify how the information presentation must be design. For example, knowing that a message vehicle can present auditory information does not tell you which sounds to present. Media attributes my be thought of as being informational potentialities – the potential of activiting particular learner activity, and so fourth.”
    Seperti diketahui bahwa setiap media apapun jenisnya, menyimpan pesan atau informasi tertentu untuk disampaikan kepada penerima. Media merupakan message vehicle atau semacam sarana atau kendaraan yang dapat membawa pesan atau informasi untuk disampaikan kepada audience yang dalam hal ini adalah peserta belajar. Namun setiap jenis media mempunyai kemampuan yang berlainan dalam menyampaikan informasi, media audio seperti radio mempunyai kemampuan berbeda dalam menyampaikan informasi dengan video atau televisi, ataupun media lain seperti film bingkai (slide).
    Levie lebih lanjut menjelaskan dalam memilih dan menggunakan media tertentu perlu diperhatikan lima kategori media attributes dalam keperluan pendidikan, yaitu (1) tanda/lambang yang digunakan, (2) unsur realitas yang digunakan, (3) saluran indera yang digunakan, (4) kemampuan untuk mengontrol media yang digunakan, dan (5) respon didalam memanfaatkan media.
    Mengingat bahwa program radio dan tv tidak memberikan kesempatan kepada pendengar atau peserta belajar untuk memberikan respon secara langsung dan karena sifat media ini hanya satu arah maka pengemasan pesan-pesan yang disampaikan melalui media tersebut harus komunikatif dan dapat menarik sehingga pendengar tidak bosan dalam mengikuti program yang disampaikan.
    Schramn (1974) menyatakan agar tujuan komunikasi berhasil perlu dilihat dari dua sisi, yaitu sudut kepentingan sumber dan dari sudut kepentingan penerima. Dari sisi kepentingan sumber, yaitu (1) memberi informasi, (2) mendidik, (3) menghibur, dan (4) menganjurkan suatu tindakan. Sedangkan bila dilihat dari sudut penerima, yaitu (1) memahami informasi, (2) mempelajari, (3) menikmati, dan (4) menerima atau menolak anjuran (Sendjaja : 1993).
    Bertitik tolak dari pendapat Schramn di atas maka dalam menentukan tujuan program pendidikan (pembelajaran) dilihat dari sudut kepentingan sumber, apakah program yang dikemas sudah berisi (1) informasi yang berguna bagi pendengar/pemirsa atau kelompok belajar, (2) mendidik pendengar/pemirsa dalam hal ini peserta kelompok belajar dengan baik, (3) apakah program ini memberikan hiburan bagi pendengarnya sehingga menarik dan tidak membosankan, dan (4) apakah program ini menganjurkan tindakan atau suatu kegiatan setelah mendengarkan siaran ? Pertanyaan-pertanyaan tersebut yang perlu dijawab dalam mengemas program pendidikan/pembelajaran.
    Perlu diketahui juga bahwa radio dan tv sebagai media komunikasi massa seperti dikatakan Biagi (1995 : 24) bertujuan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat tentang informasi, menawarkan hiburan, menebarkan budaya suatu bangsa, namun dari itu semua tujuan yang sebenarnya mencari keuntungan. Untuk itu lanjut Biagi trend pendengar radio dan tv sekarang cenderung pada segment tertentu. Tentu hal ini tidak mengurangi penggunaan radio dan tv untuk kepentingan sosial dan pendidikan. Bagaimanapun juga radio dan tv sangat dibutuhkan dalam penyelenggaraan pendidikan karena memiliki karakteristik yang khas seperti pendengarnya bersifat massal, pesan dengan sasaran kelompok besar dari berbagai macam secara simultant atau serentak dalam periode yang sama, dan dapat disebarkan dalam waktu yang cepat. Oleh sebab itu dalam mengemas pesan yang dimulai dengan penulisan naskah, jangan dilupakan bahwa media radio dan tv hanya sekilas, yang pada dasarnya adalah media untuk hiburan, maka faktor daya tarik sangat penting diperhatikan.
    Hiebert (1990) dalam melihat media massa memberikan sekurang-kurangnya enam fungsi penting, yaitu sebagai hiburan, news atau berita, commentary atau ulasan, pendidikan, publlic relation, dan periklanan. Hal ini seiring dengan apa yang diuraikan tentang fungsi media massa oleh Joseph De Vito (1996 : 464-465) bahwa popularitas dan pengaruh yang merasuk dari media massa hanya dapat dipertahankan jika mereka menjalankan beragam fungsi pokok. Diantara fungsi terpenting adalah :
    1. Menghibur, pengelola media harus mendisain program-programnya untuk menghibur untuk mendapatkan perhatian dari khalayak. Bila tidak mereka akan ditinggalkan oleh pendengarnya/pemirsanya.
    2. Meyakinkan, membujuk, walaupun fungsi media yang paling jelas adalah menghibur, namun yang terpenting ialah meyakinkan yang dalam berbagai bentuk seperti : (1) mengukuhkan atau memperkuat sikap; (2) mengubah sikap, kepercayaan atau nilai seseorang; (3) menggerakkan seseorang untuk melakukan sesuatu; dan (4) memperkenalkan etika, atau menawarkan sistem nilai tertentu.
    3. Mengukuhkan, kendatipun sukar bagi suatu pihak untuk mengubah suatu sikap kepada sikap tertentu, dengan segala sumber daya media dan kekuatan yang ada lebih sering mengukuhkan dan membuat kepercayaan, sikap nilai, dan opini menjadi lebih kuat. Seperti umat beragama akan mendengarkan pesan-pesan yang sesuai dengan keyakinan mereka dan akan menjadi lebih kuat dalam meyakini kepercayaan mereka.
    4. Mengubah, media akan mengubah sementara orang yang tidak memihak dalam suatu masalah tertentu. Jadi mereka yang terjepit diantara dua kelompok akan terseret ke salah satu pihak akibat pengaruh pesan-pesan media.
    5. Menggerakkan (activating), fungsi ini sangat penting dalam upaya menggerakkan massa dalam mengambil tindakan. Khususnya dalam dunia periklanan bagaimana khalayak tergerak hatinya untuk membeli suatu produk.
    6. Menawarkan etika atau sistem nilai tertentu. Dengan mengungkapkan secara terbuka adanya penyimpangan tertentu dari suatu norma yang berlaku, media merangsang masyarakat untuk bisa berubah.
    7. Menginformasikan, sebagian besar informasi diperoleh bukan dari sekolah, melainkan dari media. Banyak orang belajar musik, politik, seni, ekonomi, sosiologi dan lain-lain melalui informasi yang disiarkan oleh media. Sehingga salah satu fungsi media adalah informasi yang sekaligus berfungsi sebagai edukasi atau mendidik.
    Menyinggung fungsi media massa dalam era pembangunan ini Denis Mc Quail (1986 : 120) menganjurkan seyogyanya media menerima dan melaksanakan tugas pembangunan positif sejalan dengan kebijaksanaan nasional. Disamping itu media massa merupakan sumber kekuatan atau alat kontrol manajemen dan inovasi dalam masyarakat yang dapat didayagunakan sebagai pengganti kekuatan diantara sumber daya lainnya. Hal ini tentu saja sebagai konsekuensi logis dimana setiap warga negara, individu ataupun kelompok minoritas memiliki hak pemanfaatan dan hak untuk dilayani oleh media sesuai dengan kebutuhan yang mereka tentukan sendiri.
    Lebih lanjut Theo Stokkink (1997) melihat bahwa fungsi media massa harus bekerja dengan baik sebagai dunia gagasan, sebagai media pendidikan, mendidik dengan menggunakan konsep dan fakta-fakta. Dari gambaran peristiwa secara dramatis, kepada pencarian pemikiran politik aktual, radio dan tv mampu menyajikan berbagai pokok pembicaraan yang dapat didiskusikan dengan membawa orang belajar pada suatu tempat yang telah ditentukan sebelumnya melalui himpunan pengetahuan yang diberikan.
    Hal di atas akan dapat terlaksana sebagai contoh media radio bersifat imanjinatif dan bersifat pribadi dapat menyapa setiap pendengar secara individu. Pendengar membawa radio mereka di mobil, di rumah dan di tempat tidur. Bila dihubungkan dengan imajinasi radio memperlihatkan kekuatannya yang besar sebagai media. Radio menuntut partisipasi aktif pendengarnya dalam membangun suatu pengalaman tentang pandangan, daya penciuman, dan sensasi yang dihasilkan oleh media suara murni. Disebabkan suara yang buta maka pendengarnya mencoba untuk menvisualisasikan apa yang didengarnya dan mencoba menciptakan si pemilik suara dalam bayangan mereka sendiri. Karena radio memiliki fasilitas yang menakjubkan dalam menciptakan ilustrasi dalam pikiran pendengarnya. Hal ini dapat dilakukan apabila kata-kata yang digunakan dapat menggambarkan suatu suasana secara visual, penyebaran berita dan daya penggunaan kata-kata juga dapat menimbulkan suasana emosional. Demikian juga tv dengan kekuatan visual geraknya bisa memancing emosi pemirsa dengan ekspresi para pemainnya.
    Pesan (Message)
    Fisher (1986 : 365) mengingatkan bahwa pesan dalam model mekanistis ditransformasikan pada titik-titik (saat-saat) penyandian dan pengalihan sandi sehingga pesan itu sendiri berupa pikiran atau ide berada pada suatu tempat dalam sistem jaringan syaraf (neorophysiological) dari sumber/penerima dan setelah penyandian terjadi dalam suatu situasi tatap muka, ditransformasikan ke dalam rangkaian getaran udara (gelombang suara) dan sinar-sinar cahaya yang terpantulkan. Alat pengalihan sandi pada sumber/penerima mentransformasikan fenomena energi fisik itu kembali ke dalam kata petunjuk paralinguistik, isyarat dan pikiran. Tetapi, dalam bentuk energi fisik antara sumber/penerima, maka pesan itu bukanlah merupakan pikiran, bukan pula berupa kata-kata. Akan tetapi ia merupakan seperangkat isyarat (signals) fisik.
    Clevenger dan Matthews (1971 : 12-14) seperti juga Cherry (dalam Fisher, 1986) membedakan antara pesan dan isyarat atas dasar bentuk fisik dan lokasinya, pada saluran, isyarat (signals) itu adalah peristiwa “fisiknya”, dan pesan hanya terdapat pada saluran di dalam diri sumber/penerima. Selanjutnya Clevenger dan Matthews (1971) meneruskan satu langkah lagi, bahwa dalam setiap peristiwa komunikatif, terdapat tiga buah pesan yang potensial. Pesan yang dikirimkan itu membentuk satu pesan; pesan yang diterima merupakan pesan yang kedua. Mereka secara jelas menyatakan bahwa kedua pesan itu tidak harus dipahami sebagai “versi” yang berbeda dari pesan yang sama, merupakan “peristiwa yang secara keseluruhan berbeda.”
    Pesan adalah sesuatu yang dikirimkan dan atau diterima sewaktu tindakan komunikasi berlangsung. Pesan dapat dikirimkan baik melalui bahasa verbal maupun non verbal. Pesan juga merupakan suatu wujud informasi yang mempunyai makna. Maka apabila pesan tidak bisa dipahami oleh penerima maka pesan yang dikirimkan tersebut tidak menjadi informasi. Tetapi perlu disadari bahwa suatu pesan bisa mempunya makna yang berbeda bagi satu individu ke individu lain, karena pesan berkaitan erat dengan masalah penafsiran bagi yang menerimanya.
    Bagaimana karakteristik isi pesan melalui media massa ?
    Khalayak akan tertarik apabila pesan mengandung unsur-unsur sebagai berikut :
    1. Novelty (sesuatu yang baru), pendengar/pemirsa akan tertarik apabila yang disajikan sesuatu yang baru, misalnya masalah proses reformasi yang baru saja berlangsung.
    2. Kedekatan atau proximity, pendengar/pemirsa akan lebih tertarik apabila yang disajikan suatu peristiwa yang dekat secara fisik dengan pengalamannya dengan pendengar/pemrisanya.
    3. Popularitas, pemberitaan seorang tokoh yang populer akan mempunyai daya tarik tersendiri bagi pendengar.
    4. Pertentangan (conflict), sesuatu yang mengungkapkan pertentangan, baik dalam bentuk kekerasan ataupun menyangkut perbedaan pendapat atau nilai, biasanya disukai pendengar.
    5. Komedi (humor), hal-hal yang lucu dan menyenangkan akan lebih menarik untuk didengar sehingga tidak membosankan.
    6. Keindahan, menyenangi keindahan dan kecantikan adalah salah satu sifat manusia, sehingga siaran yang mengandung keindahan akan sangat disenangi.
    7. Emosi, sesuatu yang membangkitkan emosi dan menyentuh perasaan yang merupakan daya tarik tersendiri dalam pengemasan suatu pesan.
    8. Nostalgia, yang dimaksud dengan nostalgia di sini ialah hal-hal yang mengungkapkan pengalaman di masa lalu. Seperti nyanyian lama akan membangkitkan kenangan masa lalu, atau peristiwa bersejarah.
    9. Human interest, pada dasarnya orang akan menyukai tentang cerita-cerita yang menyangkut kehidupan orang lain (Sendjaja : 1993).
    Ruben (1992) hanya menyebutkan lima unsur yang mempengaruhi pesan, yaitu origin, mode, physical character, organization dan novelty. Memperhatikan tentang karakteristik isi pesan tersebut di atas, apakah isi pesan pendidikan (pembelajaran) dapat diramu berdasarkan hal-hal tersebut diatas? Sebuah pertanyaan yang sulit dijawab, namun penulis berkesimpulan pada dasarnya pesan pendidikan melalui radio/tv dapat dikemas berdasarkan unsur-unsur tersebut. Khusus untuk program pendidikan yang bersifat pembelajaran (instructional) tidak semua unsur tersebut dapat digunakan, dan apabila akan memasukkan unsur-unsur tersebut, kemasannya harus indah untuk didengar dan tidak vulgar.
    Selain unsur-unsur isi pesan, struktur dan teknik penyajiannya sangat menentukan keberhasilan pesan tersebut untuk diterima pendengar. Selanjutnya Sendjaja (1993) menyimpulkan bahwa bentuk dan teknik penyajian merupakan faktor yang mempengaruhi keberhasilan upaya persuasi. Secara umum ada dua yang perlu diperhatikan, yaitu struktur pesan dan daya tarik pesan itu sendiri.
    1. Struktur Pesan
    Struktur pesan mengacu kepada bagaimana mengorganisasi elemen-elemen pokok dalam sebuah pesan, yaitu sisi pesan (message sidedness), urutan penyajian (order of presentation), dan penarikan kesimpulan (drawing a conclusion).
    a. Sisi pesan terdiri dari dua bentuk penyusunan, yaitu satu sisi (one sided) dan dua sisi (two sided). Penyusunan pesan lebih banyak menitikberatkan pada kepentingan pihak pengirim saja, biasanya pesan yang ditonjolkan adalah aspek-aspek positif. Sedangkan dua sisi pesan disampaikan dengan segala kelemahan dan kekuatannya.
    b. Urutan penyajian berbentuk “climax versus anticlimax order” dan “recency and primacy model“. Hal ini berkaitan dengan pesan satu sisi. Disebut climax order, bila dalam penyusunan pesan argumen terpenting diletakkan pada bagian akhir. Bila disebutkan pada bagian awal disebut anticlimax order, dan bila ditempatkan ditengah-tengah disebut pyramidal order. Primacy yaitu model bila dalam menyusun suatu pesan aspek positif dan negatif ditempatkan pada bagian awal. Sedangkan recency bila aspek positif dan negatif ditempatkan pada bagian akhir.
    c. Penarikan kesimpulan. Membuat suatu kesimpulan dapat secara merata langsung dan jelas (explisit) atau secara tidak langsung (implisit).
    2. Daya Tarik Pesan
    Daya tarik pesan berkaitan dengan teknik penampilan dalam penyusunan suatu pesan, ide yang meliputi fear (threat) appeals, emotional appeals, rational appeals dan humor appeals. Fear (threat) appeals bila dalam menyajikan suatu pesan yang ditonjolkan unsur-unsur ancaman bahaya sehingga menimbulkan rasa takut, dan bila penekanan pesan pada hal-hal yang bersifat emosional seperti keindahan, kesedihan, kesengsaraan, cinta dan kasih sayang. Rational appeals bila pesan tersebu menekankan pada hal-hal yang logis, rasional dan faktual. Humor appeals bila penyajian pesan dikemas dalam bentuk humor, bisa saja dalam bentuk kata, kalimat, gambar, simbol atau yang lainnya yang bisa menimbulkan kesan lucu.
    Penutup
    Sebuah pertanyaan yang perlu dijawab sebelum membuat program radio dan tv, apapun bentuk dan isinya adalah “Apakah prinsip-prinsip komunikasi seperti struktur pesan dan isi pesan sudah menjadi pertimbangan ?” (zh)
    DAFTAR PUSTAKA
    1. Barker, Larry Lee and Deborah A, Barker (1993).Communication, Sixth Edition, New Jersey : Prentice Hall, Enlewood Cliffs.
    2. Biagi, Shirley (1995). Media Impact An Introduction to Mass Media, Third Edition, California : Wadsworth Publishing Company.
    3. Hiebert, Ray Eldon M (1990). Mass Media VI, An Introduction to Modern Communication, New York : Longman
    4. Mc Quail, D. & Windahl S. Communications Models for The Study of Mass Communications, New York : Longman
    5. Ruben, Brent D (992), Communications and Human Behavior, Third Edition, New Jersey : Prentice Hall, Enlewood
    6. Schramm, Wilbur (Ed.) (1965). How Communication Work in the Process and Effect of Mass Communications, Urbana : The University, Illinois Press.
    7. Sendjaya, Sasa D (1993), Pengantar Komunikasi, Jakarta : Universitas Terbuka.
    8. Stoklink, Theo (1997), The Profesional Radio Presenter, Penyiar Radio Profesional,Yogyakarta : Kanisius.
    9. Sudirdjo, Sudarsono (1995). Program Televisi sebagai Suatu Sumber Belajar untuk Menunjang Penyelenggaraan Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun, Jakarta, IKIP Jakarta


Top